Tuesday, September 26, 2017
Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » Bingkai Dunia, Jendela Untuk Anak Indonesia
bingkai duniaP6193399

Bingkai Dunia, Jendela Untuk Anak Indonesia

Akan kubangun negeri diatas awan, wahai anak-anakku

dimana kalian akan menari seringan kapas

bermimpi setinggi nirwana

terbang bagaikan elang

tumbuh bagai kupu-kupu

 

Kutipan di atas merupakan bagian pendek dari sebuah tulisan yang pernah aku buat bertahun-tahun lalu, sebuah refleksi jiwa tentang dunia yang selalu membuatku bergairah, yaitu dunia anak-anak. Dimataku, wajah anak-anak dan tingkah laku nya selalu membuatku jatuh hati, tak peduli di belahan dunia mana ia berasal dan aktivitas apa pun yang sedang mereka lakukan. Di mana pun aku menjumpai anak-anak, aku selalu merasa mata mereka mengajakku berbicara sehingga tak heran bila aku sering sekali tak dapat menahan diri untuk menyapa atau setidaknya melemparkan senyum termanis buat mereka.

Terbayang di pelupuk mata saya, wajah polos Kasiman, Kasip, dan Gilang, anak-anak Baduy Dalam yang turut menjadi bagian dari cerita hidup saya saat berkunjung ke Kanekes. Meski tak seantusias anak-anak di kota lain yang pernah saya temui dalam berinteraksi dengan orang asing, namun keseragaman dan keunikan mereka tetap memberi warna di hati saya. Masih jelas juga dalam ingatan saya bagaimana ekspresi anak-anak di Pulau Harapan kepulauan Seribu, berkulit legam khas anak pesisir yang berlompatan di pantai sekitar dermaga menanti lemparan koin dari wisatawan yang datang, persis pemandangan yang sering saya jumpai di dermaga Pelabuhan Merak-Bakauheni bila saya bertolak dari Jakarta pulang ke kampung halaman saya di Bandar Lampung.

Teringat juga saat saya menemani orangtua ke Bali beberapa minggu lalu, serombongan anak-anak di Danau Beratan, selesai upacara di Pura Ulun Danu, berpakaian adat berhias Udeng, dengan wajah riang tertawa sengaja menari dan tak segan-segan berpose didepan saya saat kamera mengarah kepada mereka. Lensa kamera saya seolah menjelma menjadi detektor yang sibuk mendeteksi dimana keberadaan anak-anak dengan ekspresi mereka yang unik di setiap tempat yang kami kunjungi selama lima hari. Sampai Bli Wayan, supir kami selama di Bali menggoda saya dengan mengatakan, sedemikian menariknya anak-anak itu buat saya untuk diabadikan sehingga anak kecil yang sedang menangis dan ingusan pun tetap menarik untuk di foto.

Tak hanya ekspresi menarik, lucu dan menggemaskan anak-anak ini yang menggetarkan sanubari saya. Ada beberapa ekspresi yang juga tak kalah menyentak kalbu saya. Seperti wajah yang baru saja saya lihat kemarin malam di sebuah restoran. Wajah gadis kecil berusia kurang dari sepuluh tahun yang menangis ketakutan akibat orangtuanya yang sepertinya masih harus banyak belajar menjadi orangtua memposisikan sang anak harus berada di antara ayah ibunya yang bertengkar dan saling memaki di depan umum. Saya yang sangat lapar malam itu mendadak kehilangan selera.

Dilain hari saya juga pernah rasanya ingin memeluk seorang anak didalam angkutan umum yang sudah demikian stress nya karena jalanan Jakarta yang macet luarbiasa tak manusiawi. Anak yang sudah berjam-jam dalam angkot yang pengap dan panas ini butuh udara segar dan empati atas ketidaknyamanan yang harus ia tanggung dan sudah melewati ambang batas kemampuan kanak-kanaknya. Alih alih mengatasi stress si anak, sang ibu yang juga sama lelahnya malah menambah dengan memarahi sang anak. Saya hanya bisa menghibur sang anak dengan kata-kata sambil tersenyum dan memijat ringan dirinya dengan minyak kayu putih yang kebetulan saya bawa untuk membuatnya sedikit nyaman.

Tapi yang paling membekas di hati saya sesungguhnya justru adalah wajah anak-anak yang saya sering lihat di sekitar kehidupan saya di Jakarta. Wajah-wajah mereka yang hidupnya tak seberuntung anak-anak lain di kota metropolitan ini. Wajah anak saya yang mengadu bahwa seorang temannya yang terancam putus sekolah karena tak mampu membeli buku dan membiayai hidupnya, tidur beralaskan terpal dalam sebuah rumah petak tanpa jendela. Saya nyaris tak mampu membendung rasa yang menusuk hati saya melihat anak-anak di pinggiran stasiun, anak-anak yang mengamen dari gerbong ke gerbong KRL Jabodetabek, anak-anak yang berkeliaran di lampu merah meski malam sudah larut dan tidur di emperan jalan. Miris melihat anak perempuan yang harus ditempa kehidupan keras di jalanan lalu kelak akan melahirkan generasi berikut yang tak juga dibesarkan di jalanan. Untuk yang seperti ini saya segera merunduk, merendahkan diri dan kalbu saya sujud ke titik terendah ketidakberdayaan saya sebagai manusia, melayangkan seuntai doa, “izinkan saya Tuhan, beri saya jalan, agar seluruh tubuh, pikir dan jiwa yang engkau anugerahkan ini bermanfaat bagi anak-anak seperti ini”

Untuk semua kegelisahan saya ini, saya bahkan tak tau harus berbuat apa dan mulai darimana. Saya punya apa yang bisa saya bagi? Saya tak berkelebihan harta, saya cuma punya kasih dan peduli, saya punya tubuh yang masih sehat, tapi tak tau harus melakukan apa, yang saya lakukan adalah mengulang doa tersebut setiap melihat wajah-wajah tak beruntung itu. “Izinkan saya Tuhan, beri saya jalan” begitu kerap berulang, hingga dua hari kemarin saya makin resah dengan pikiran saya mengenai hal ini. Saya cuma berpikir bahwa tak cukup hanya berdoa, tak cukup hanya punya keinginan, ide dan konsep di kepala, harus mengejewantah menjadi aktivitas fisik dan nyata, meski satu langkah, meski kecil harus ada ada yang berbeda dari hari kemarin dan bergerak ke depan.

Saya kemudian membayangkan untuk menyulap garasi rumah dan teras yang masih cukup luas untuk tempat anak-anak berkumpul dan membaca, dan memindahkan seluruh koleksi buku keluarga kami kesana, mencoba dengan pikiran yang terbatas ini mengukur luas ruang tamu yang nyaris tak pernah didatangi tamu kecuali keluarga untuk disulap sebagai ruang kelas untuk belajar, membayangkan bahwa saya sendiri kelak yang akan menjadi guru mereka sebelum guru-guru lain bersedia turut berbagi mengajari mereka. Rumah ini akan jadi rumah mereka semisal sebuah rumah dengan jendela-jendela besar yang terbuka lebar hingga mereka bisa denga jelas melihat dunia lewat buku, membuat mereka bermimpi dari dalam bingkainya dan kemudian melesat berlari untuk mengejar impiannya. Saya menutup hari dengan memutuskan bahwa saya tidak akan menunda, meski sekecil apapun langkah yang mampu saya lakukan melahirkan sebuah media berkarya, cikal bakal sebuah gerakan bersama bagi mereka yang memiliki kepedulian yang sama. Semoga ada tangan-tangan untuk kami saling bergandengan.

 

bismillahirrohanirrohiim….

dengan nama Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Izinkan saya, Tuhan…semoga ini jalannya…aamiin

 

Jakarta, 30 Juni  2013

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

P_20160401_151657

Kebun Raya Eks Tambang Emas Minahasa, Sebuah Persembahan Bagi Alam

Berkali saya melihat gambar yang sejatinya memancing imaji keindahan. Lubang-lubang putih menganga, berserakan di sebuah ...

2 comments

  1. Bismillah… semoga terkabul 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge