Sunday, September 24, 2017
Home » Family and Parenting » biduk ini, hendak dibawa kemana?

biduk ini, hendak dibawa kemana?

Roda my red beauty melaju stabil di jalur tengah dengan kecepatan terjaga hanya sekitar 100 km/jam. Duduk manis dikursi penumpang, mendampingi my tinto yang bersedia memegang kemudi mengantarku ke Darmaga, alunan lagu Jalan Cinta, Sherina mengalun mengantar kami berbincang.

Sungguh hal yang sangat biasa buat kami berbincang sepanjang perjalanan, dan momen pagi hari dengan jarak tempuh yang cukup jauh seperti pagi ini sangat menyenangkan buat kami, karena pada pagi hari, pikiran kami masih sangat segar untuk membahas banyak hal tanpa terpengaruh hal lain yang mungkin saja bisa terjadi sepanjang hari kemudian.

Pagi ini, tangki emosi saya penuh cinta, hanya dengan satu kalimat pengantar pagi dari pak Ginting, “mau ke Bogor hari ini, nda? biar tinto antar sampai Darmaga. Nanti pulangnya nya jam 5 aja biar Tinto bisa jemput lagi di darmaga, biar bunda gak cape dan sekolahnya cepat selesai”.

Kalimat seperti ini sesungguhnya langka, beliau jarang menawarkan diri untuk membantu, namun jarang juga menolak bila saya meminta bantuan. Sesekali beliau meolak, dan bila isi kepala nya lagi penuh dengan urusan kantor, urusan menolak akan lebih sering terjadi. Namun buat saya yang bahasa kasih nya didominasi oleh pelayanan, dimana saya hanya merasa dicintai bila “dilayani”, maka biasanya ini akan mempengaruhi mood saya sepanjang hari, sehingga bila pagi ini tawaran itu datang…wow, mendadak tangki emosi saya luber…dan cinta akan merembes kemana-mana seharian ini. Gak bahaya sih…paling2 kecentilan sendiri dan dapet kalimat sakti dari anak2 di kantor….”mamih, genit banget sih hari ini !! hehehehe.

Pak Ginting tau betul dengan bahasa apa dia harus berbicara dengan saya….tidak perlu dengan kata. Begitupun saya, tau benar bahasa kasih nya justru dengan kata2, beliau yang sangat suka disanjung, dipuji, dihargai dan diberi kata2 yang indah meski saya gak pernah masak, gak pernah beres2 rumah.

Tapi meski begitu, bukan berarti hubungan kami mulus2 saja….justru karena mengetahui benar bahasa kasih dominan pasangan, sesekali terutama bila kami out of control, maka justru kami menggunakan nya sebagai senjata paling dahsyat. Mulai lah saya menyerang dengan bahasa2 dan kata2 yang keluar dari kamus besar bahasa kemarahan dan beliau dengan cool membalas saya dengan cukup berlama-lama mengacuhkan saya daripada makin sakit hati melihat wajah judes saya dengan kalimat sakti menyakiti. Lalu saya mulai klepek2 mewek sendirian nyetir ke bogor, bolak balik gak bisa tidur karena gak ada yang pijit2, dan manyun sendirian kulineri karena gak ada temen makan, rugi bener khan? nah bagian ini dont try this at home ya. Percaya deh gak ada manfaatnya, buang2 energi dan cuma bikin kita sombong seolah gak butuh orang….hehehehe

Bicara cinta dan bahasa kasih selalu menjadi topik yang menyenangkan buat saya. Seperti pagi ini, menyoroti beberapa kasus disekitar kami seputar masalah kerumahtanggaan, kami mulai berdiskusi.

Jadi apa sih yang membuat sebuah rumahtangga selamat langgeng dan bahagia, tinto?, aku mulai bertanya. Kedua nya menurutku satu kesatuan yang utuh, karena langgeng tapi gak bahagia, akan membuat kita hidup seperti di neraka, dan kami tau betul rasanya hidup seperti didalam neraka rumahtangga. Sama sekali gak enak!

Ketika aku mulai menganalisa, “mungkin perlu pengenalan yang dalam ya yang?”, tanyaku pada beliau

“ah….yang pacaran bertahun2 sebelum menikah juga ada yang berpisah.

namun yang menikah tanpa pacaran pun gak sedikit yang langgeng dan bahagia”, begitu jawaban beliau

hmm….mungkin faktor ekonomi nya yang??

“gak juga nda……yang miskin bahagia dan mesra banyak tuh, tapi yang berlimpah tetap saja ada yang bubaran” kembali beliau membantah.

atau faktor pendidikan ??

“duh bunda…..bukannya udah kecebur didalam dunia pendidikan, ngalamin sendiri dimana strata pendidikan seseorang gak jamin dia cerdas di kehidupan sosialnya”

lalu apa dong yang??

mungkin soal religi…?? aku terus bertanya

nah yang ini agak susah jawabnya, agama dan ibadah itu, yang tau cuma si pelaku dan Tuhannya.

Kita paling bisa lihat dari luar, meski bukan berarti yang menutup rapat aurat nya dan yang paling fasih menyebut nama Tuhan itu yang paling mampu menjaga rumahtangga nya”

jangan nilai manusia dari situ…bukan hak kita…” pak ginting seolah menutup pertanyaan lebih lanjut.

sejenak kami terdiam, sambil terus menikmati jagorawi yang lengang dan gunung salak yang terlihat semakin dekat.

Alunan lagu pun beralih ke Just For You nya Richard Cociante. Aku melirik ke sosok disamping saya…sungguh manusia yang tidak sempurna ini telah menyempurnakan saya sebagai manusia dengan segala kekurangannya.

Seperti iklan2 di televisi….pilihan begitu banyak diluar sana.

Lalu pilihan hidup seperti apa yang ingin kamu ambil dan jalani.

Putuskan salah satunya, yakin kan itu menuju tujuan yang baik dan dengan cara yang baik

lalu jalani dengan sabar dan dengan komitmen yang jelas.

Tanpa mengurangi sedikitpun rasa hormat terhadap lembaga pernikahan dan orang2 diseputar kami yang terlibat dalam sebuah pernikahan, dan tanpa bermaksud mengajari mereka2 tersebut, tulisan kami ini hanya bermaksud berbagi.

mungkin beberapa dari kita meletakkan dasar yang salah dalam pernikahan. Ataupun bila benar meletakkan fondasinya, tapi gagal membangun tiangnya dan atapnya…sehingga pernikahan tidak mampu melindungi manusia2 didalamnya, pernikahan tak mampu melindungi kita, pasangan kita dan anak2 yang mungkin lahir dari pernikahan tersebut.

Ujian yang Tuhan berikan pada setiap umatnya berbeda-beda, mungkin bila kami mengalami seperti yang orang lain alami, jalan ceritanya akan berbeda. Tapi kami mau belajar dari setiap hal yang orang lain alami, orang yang pantas kami sebut sebagai guru dalam kehidupan kami, sebagaimana kami belajar dari orangtua dan orang yang lebih tua dari kami.

kami belajar bahwa selalu akan ada masalah dalam rumahtangga, seribu satu macamnya dan seribu satu solusinya. mau yang cara cepat atau cara lambat, cara cerdas atau kurang cerdas, cara primitif atau modern, mau elegan atau norak….semua ditangan kita.

Di usia pernikahan yang masih seumur jagung ini, mudah2an kami belajar dengan cepat, meski kami harus membayar dengan mahal semua pelajaran ini dan harus kami pertanggungjawabkan kelak di hadapan sang Khalik.

kami belajar bahwa hal yang pertama kami harus lakukan adalah, kami harus sepakat dulu bahwa kami adalah tim sukses pernikahan kami, dan tetap harus bergandengan tangan menuju podium kemenangan.

OK…kita adalah tim sehingga harus menjadi Good Team Player.

lalu kami mulai membangun pagar rumahtangga kami…tak seorang pun kami ijinkan masuk dalam rumahtangga kami. Semua tamu dari masa lalu, para mantan pacar, para penggemar, dan barisan kasih tak sampai itu hanya boleh bertandang diluar pagar. Sama sekali gak ada tempat untuk orang ketiga.

belum pernah kami temukan mereka yang bahagia utuh, tanpa setia 100% dalam rumahtangganya.

Begitu pun keluarga dan sahabat, mereka memang menjadi pendamping handal kami disaat sulit, namun biasanya mereka terlalu sayang dengan kita dan cenderung berpihak, sehingga bila masalahnya sudah berat maka sebaiknya gunakan orang2 diluar kehidupan anda atau jasa konselor yang tidak berpihak dan bisa melihat masalah ini dari kedua arah.

Pelajari bahasa kasih pasangan anda, hal ini wajib dilakukan. Karena segala upaya menuju hal yang lebih baik bila tidak dsampaikan dengan bahasa kasih pasangan maka mereka tidak akan pernah mengerti, sehingga semua upaya yang kita lakukan terlihat salah dimatanya. Penuhi tangki emosi nya dengan bahasa kasih yang ia mengerti.

(baca : http://www.facebook.com/?ref=home#!/note.php?note_id=108435673294 ).

Mungkin benar misalkan uang yang menjadi masalah, t
api bila bahasa kasih pasangan anda adalah waktu yg berkualitas, dan anda kehilangan momen2 istimewa dalam rangka memenuhin kebutuhan tersebut, maka proses tersebut akan menyakitkan sekali untuk dilalui.

Bila harus bertengkar, maka bertengkarlah dengan adil, berbesar hatilah untuk mendengar keluhan pasangan, dengarkan apa yang dia inginkan. Begitupun kita, dengan rendah hatilah menyampaikan keluhan, tidak menyerang, tidak menghakimi, hanya menyampaikan apa yang anda rasakan.

tanyakan apa yang harus saya lakukan, dan buat komitmen bersama.

mungkin itu sulit, butuh waktu, dan menyiksa..

tapi bila komitmen sudah diambil…maka tak ada pilihan lain selain jalani dengan sabar, dijalur yang benar….senantiasa berdoa dan libatkan Tuhan dalam setiap permasalahan.

Tidak ada maslah yang Tuhan tidak mampu selesaikan bukan

tapi kadang kita tidak suka dengan jalan yang Tuhan sediakan, serta tidak bersyukur pada apa yang sudah Tuhan berikan melalui pasangan anda

Tetaplah dijalan yang benar, menuju takdir yang Tuhan sediakan buat kita

semoga……

langgeng dan bahagia

21 Mei 2011

ruang tengah nirmala II

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

P8140535 - Copy

traveling asyik dimata anakku, lagu rindu sang bunda di bibir anaknya…

 Karena lagu yang tinggal diam di dalam hati seorang ibu, bernyanyi diatas bibir anaknya. Cuplikan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge