Sunday, September 24, 2017
Home » Family and Parenting » Bicaralah Dengan Bahasa Kasih
bicaralah dengan bahasa kasih

Bicaralah Dengan Bahasa Kasih

Pagi ini aku bangun pagi dengan perasaan yang nyaman sekali. Load pekerjaan yang tidak terlalu tinggi dan masa libur kuliah di Bogor memberi aku waktu banyak untuk istirahat dan menciptakan moment-moment istimewa buat keluarga; orang-orang terdekat ku yang hak waktunya paling banyak aku ambil sejak 2007 silam. Setelah berlibur dengan seluruh keluarga besar, dengan dibarani dan ayahnya, dan insyaallah besok hanya dengan ayah mereka saja, moment bulan istimewa buat kami yaitu bulan juli ini disempurnakan dengan bertandang ke rumah nondong (panggilan suku karo buat nenek ) kemarin. Kebetulan ibu mertua ku itu sedikit kurang sehat dengan tekanan darah tinggi yang membuat penglihatannya terganggu.

Dengan sejumlah kegiatan refreshing tersebut maka hari ini aku melangkah dengan ringan hati meninggalkan rumah untuk melaksanakan kewajiban pekerjaan ku di Jayabaya. Duduk manis disupiri sang suami kami berbincang tentang makna sebuah hubungan. Tak dipungkiri bahwa hal yang satu ini merupakan hal yang gampang-gampang susah. Terbukti bahwa ada saja yang membuat hubungan kita dengan orang lain bermasalah. Orang tua dengan anak, menantu dengan mertua, suami dan istri, dengan tetangga, dengan keluarga, dengan teman sekerja bahkan dengan pembantu rumah tangga, ada saja hal-hal yang membuat hubungan itu menjadi bermasalah.

Gak gampang memang. Seringkali kita merasa mengapa orang lain gak ngerti apa yang kita inginkan, pasangan kita gak tau apa yang aku mau, anak gak merasa kasih sayang orangtuanya. Begitupun sebaliknya kita sering gak paham, apa mau nya seseorang yang membuat hidup kita jadi gak jelas dan akhirnya membuat pola hubungan yang tidak sehat.

Gak Ngerti……
Kalimat yang sering kita ucapkan kalo kita udah gak tau lagi mo ngapain. Seolah kita berbicara dengan bahasa yang berbeda dengan orang lain sehingga tidak dapat saling mengerti. Dalam ilmu komunikasi ternyata begitulah adanya. Acapkali kita tidak bicara dengan bahasa yang bisa dimengerti oleh orang lain. Bukan bahasa verbal memang yang dimaksud disini namun bahasa non verbal yang dalam sebuah buku favorit kami di sebut dengan bahasa kasih.
(Chapman, G. Five Love Languages)

Bila kita bicara dengan bahasa kasih yang berbeda dengan orang yang kita ajak berinteraksi, maka sebaik apapun cara dan maksud kita dia tidak akan pernah mengerti apa yang kita maksud, begitu pula sebaliknya.
Sering kita dengar bahwa ada anak yang tidak merasa disayang oleh orangtuanya, namun bila kita crosscheck dengan orangtuanya…mereka mungkin akan mengatakan mereka sudah menyayangi sepenuh hati bahkan memberikan apa yang sang anak minta. Begitupun dengan pasangan dan orang-orang disekitar kita. Kita merasa sudah memberikan dan melakukan yang terbaik, tetapi masih saja mereka tidak merasakan kasih yang kita sampaikan. Itu mungkin saja karena kita tidak bicara dalam bahasa kasih mereka.

Orangtua kami punya bahasa kasih yang berbeda dengan kami. Dulu aku suka bingung, perasaaan aku dah jadi anak baik deh, tapi kok ada aja yang kurang di mata mereka. Perasaan aku dah merasa berusaha jadi istri yang baik deh, tapi kenapa rumahtangga kami selalu aja bermasalah hanya untuk hal-hal kecil sekalipun. Perasaaan aku dah ngorban-ngorbanin diri deh jadi sahabat sejati, tapi konflik terus saja terjadi. Ternyata aku bicara dengan bahasa kasih yang tidak mereka pahami sehingga mereka gak pernah tau sedalam apa aku menyayangi mereka.

Berusaha memahami bahasa kasih seseorang ternyata membuat semua nya menjadi jauh lebih mudah.
Aku tahu bahwa bahasa kasih papah adalah perhatian…maka sering2 lah telepon beliau, sms beliau, share status di wall fesbuk beliau he he ha …dan dia akan tau bahwa aku sangat sayang pada beliau.

Kalo papah akan berbunga2 dengan kalimat indah yang kita kirim buatnya, lain lagi dengan mamah.
Tak usah lah repot dengan syair2 pujangga untuk beliau, cukup katakan…..”mam, aku tadi pagi transfer, cek ya dah masuk apa belum xixixi….
Eits, jangan langsung berpikir itu materialistis karena ternyata salah satu bahasa kasih manusia ternyata adalah pemberian hadiah atau uang. Bagi mereka yang bahasa kasih nya ini, sebenarnya bukan menjadi masalah buat mereka berapa jumlah uang atau kemewahan sebuah hadiah, namun pemberian itu membuat mereka merasa kita sayangi.
Jadi check istri anda, jangan2 bahasa kasih nya uang atau hadiah tapi yang anda beri adalah kata2 indah nan surgawi….tetep aja dia gak merasa disayang he he he…

Tinto ku…ayah nya anak2….hmmmmm bahasa kasihnya sederhana sekali dan mungkin ini yang menjadikan aku, si perempuan cerewet dan doyan becanda ini sebagai takdir pendamping hidupnya. Beliau merasa aku sayang cukup hanya dengan mengatakan hal2 yang membuat dia senang, seperti kalimat2 penghargaan dan memotivasi atau mendukung apa yang dia inginkan atau ingin lakukan. Enak khan…..gak perlu rajin masak tetap disayang xixixixi.

Sebaliknya pria penyabar ini memang sudah diberi talenta menjadi pendengar yang baik, sabar, melayani,baik buat teman2 nya, maupun anak dan tentu saja istri yang ngomooooong terus ini, yang ternyata kebetulan sekali semua itu adalah bahasa kasih yang aku mau…plus setia mengantar dan membantu xixixixxi. Klop khan perpaduan kreasi Tuhan.

Bagaimana dengan anak-anak, karena mereka belum paham dan menentukan bahasa kasih mereka ya kita orangtuanya lah yang harus pandai2 melihat apa bahasa kasih anak2 kita. Apa satu diantara 5 bahasa kasih yang paling dominan buat mereka, apakah Hadiah/uang, motivasi/penghargaan kah, pelayanan kah, sentuhan fisik kah, atau moment2 berkesan. Sementara belum terlihat mana yang dominan maka berikan lah semuanya.

Untuk menemukan bahasa kasih anak2ku, Aku memanggil mereka dengan kata-kata; anakku cantiku, sayangku yang pintar, yang taat, yang baik, sebagai penghargaan dan motivasi
Aku berusaha membawakan sesuatu sebagai hadiah buat mereka dan sesekali uang untuk menyenangkan mereka sepulang kerja atau pada moment- istimewa.
Aku selalu memeluk dan membelai wajah dan rambut mereka saat berbicara, atau saat pergi dan pulang kerja dan menentramkan hati mereka saat mereka merasa tidak nyaman entah karena marah, kecewa atau sakit.
Dan aku betul2 meninggalkan semua kepentingan ku bila aku membawa mereka untuk menciptakan moment-moment berkesan. Sehingga waktu2 seperti itu sepenuhnya menjadi milik mereka.
Dan aku terus menggali samapi aku menemukan satu saja yang paling dominan bahasa kasih mereka.

Diba cenderung seperti ayahnya, dia tidak terlalu tertarik dengan hadiah. Tapi dia suka sekali memeluk dan mencium dan agak fragile. Jadi dia akan merasa nyaman sekali bila aku menghiburnya dalam pelukan.
Tapi rani…..dia lebih kuat, tak perlu di motivasi juga dia sudah tau apa dan bagaimana yang dia mau. Tak perlu juga banyak di hibur dan malah lebih suka ditantang, tapi soal uang dan pemberian…..walah kayaknya itu deh bahasa kasihnya. he he he….

Yang agak susah kepada teman-teman yang mungkin kita tidak memiliki ikatan batin yang cukup kuat. Sehingga terkadang justru ego kita yang bicara. Boro boro berbicara dengan bahasa kasih….kalimat Emang Gue Pikirin lebih sering jadi jargon dan membuat kita semakin arogan

Bayangkan….bila kita ternyata bicara dengan bahasa yang berbeda….mereka tidak akan pernah tau seberapa dalam kita mencintai mereka.
Kantongi ego dan bicaralah dengan bahasa kasih……
maka kita akan saling mengerti

Sekedar catt: penelitian mengungkapkan ternyata orang yang hidup penuh dengan cinta tidak akan pernah menjadi pribadi yang “sulit”

jakarta
26 Juli 2009
untuk my great parents
my beloved hubby n daughters
my best friend
for all

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

P8140535 - Copy

traveling asyik dimata anakku, lagu rindu sang bunda di bibir anaknya…

 Karena lagu yang tinggal diam di dalam hati seorang ibu, bernyanyi diatas bibir anaknya. Cuplikan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge