Saturday, October 21, 2017
Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » Catatan Kecil Kebhinekaan dalam 4 Pilar Kebangsaan
18921868_10154839595026359_6909087966587921916_n

Catatan Kecil Kebhinekaan dalam 4 Pilar Kebangsaan

Memaknai arti Bhineka Tunggal Ika memang kini berbeda dengan apa yang saya rasakan selama ini. Perbedaan bagi sebagian kita bukan lagi sesuatu yang indah namun menjadi sumber perpecahan. Padahal perbedaan adalah hal yang tidak mungkin kita nafikan. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar yang terdiri dari 17.480 pulau, 707 bahasa, dialek dan berbagai suku, agama, golongan, etnis yang berbeda cara, adat dan budayanya. Lalu bagaimana mungkin kita bersikeras bahwa kita harus sama dalam kemjemukan yang demikian kecuali hanya dengan menerima perbedaan sebagai satu kesatuan.

18880344_10154845692891359_3132020605845920771_o

Kalau boleh jujur, saya mungkin temasuk mereka yang paling sedih melihat betapa kini kita terpecah-pecah oleh perbedaan. Entah itu karena perbedaan pendapat, perbedaan pilihan, perbedaan cara, hingga perbedaan warna kulit dan keyakinan. Di media sosial bahkan lebih mengerikan lagi, setiap orang bisa begitu mudahnya mengangkat perbedaan ini hingga nampak begitu nyata, baik dengan cara yang paling halus hingga yang paling kasar, dari yang berupa sindiran hingga berupa hujatan.

Kita dengan yang lain yang tadinya berinteraksi hangat mulai mengambil jarak, yang tadinya teman berbincang kini tak lagi saling menyapa. Bahkan ketika perbedaan ini makin meruncing, kita kemudian menjadi musuh satu dengan yang lainnya. Kekeuh mempertahankan pendapat, saling serang dan  saling mengolok hingga tak jarang kita dengar permusuhan di kalangan keluarga, di dalam kelompok kerja, di dalam organisasi, komunitas hingga ke ranah personal. Bahkan ada yang sampai harus left group, unfollow, unfriend hingga blocking.

Bagi saya yang tinggal di Jakarta dan sebagian aktivitas saya terkait dengan internet dan media sosial, perbedaan ini sangat terlihat nyata terutama masalah pilkada. Hampir setiap hari saya melihat status, gambar, video, link yang bernada permusuhan, hujatan dan olok-olokan. Dan bukan hal yang aneh kemudian bila postingan tersebut diikuti oleh reaksi yang beragam di kolom komentar dengan nada yang tak kalah pedas dan keras. Masalah perbedaan pilihan calon gubernur merangsek hingga masuk dalam ranah sosial dan agama. Dan kemudian masalah kita bergeser dari masalah perbedaan pilihan calon gubernur menjadi masalah besar karena perbedaan agama dan etnis. Mengerikan bukan?

Saya sangat menghargai pilihan setiap orang dengan berbagai latar belakang pilihannya, baik berdasarkan keyakinan yang ia pegang kuat maupun berdasarkan pemikiran sesuai dengan latar belakang atau informasi dan pengetahuan yang ia miliki. Namun bila kita tidak mengerti benar tentang sebuah kasus, tidak yakin benar bahwa data atau info yang kita sajikan itu valid, apalagi kita tidak tahu persis mengenai isi ajaran dan keyakinan yang dianut orang lain, maka berpikir dua kali sebelum memposting atau menyatakan sesuatu adalah cara yang bijak agar konflik perbedaan ini semakin besar.

Mari kita nostalgia sejenak, ke masa-masa kita bisa hidup damai berdampingan dalam perbedaan di negeri ini. Bukankah itu waktu itu rasanya indah. Dalam sebuah perjalanan saya mencoba mengingat-ingat bagaimana bahagianya saya hidup dalam perbedaan, dalam kebhinekaan. Kehidupan membuat saya dikelilingi oleh banyak orang-orang yang berbeda, baik suku, latar belakang pendidikan, pekerjaan dan sosial, serta berbeda agama. Sejak kecil saya berpindah dari satu kota ke kota lain mengikuti kemana ayah saya bertugas.

Saya terbiasa hidup bersama orang-orang yang berbeda jauh dari akar saya yang berada di Tanah Sang Bumi Ruai Jurai. Kemanapun saya berpindah, saya belajar berinteraksi dengan cara mereka. Tak mungkin saya memaksakan diri saya untuk diterima bila tidak dengan membaur dan lebur dengan mereka. Bukankah pepatah mengatakan “Di mana bumi di pijak di situ langit di junjung”. Saya mempelajari adat yang berlaku di situ, budaya yang menjadi landasan kehidupan mereka, bahkan bahasa ibu yang mereka gunakan.

Saya terbiasa hidup dalam minoritas. Berada di rantau menjadikan saya sosok yang berbeda sebagai pendatang di antara dominasi penduduk lokal. Separuh dari pendidikan dasar, saya habiskan di salah satu sekolah Katolik di Lampung dan seluruh masa putih abu-abu saya selesaikan juga di sebuah SMA Katolik di Pekalongan. Teman-teman saya beragam etnis dan agama, dan saya sangat menikmati masa-masa itu. Hubungan kami sangat harmonis, sangat menghargai satu sama lain, dan alhamdulillah hingga hari ini.

Saya beruntung ada di lingkaran orang-orang yang lebih mengedapankan kebersamaan meski perbedaan jelas terlihat di antara kami. Kami tahu cara menyampaikan pendapat tanpa harus menyakiti orang lain. Kami juga tahu bahwa untuk mempertahankan keyakinan dan prinsip itu bisa kok dilakukan tanpa harus mencela atau mengolok-olok keyakinan dan prinsip yang orang lain anut. Saya juga tak akan terima bila apa yang saya yakini dicela dan menjadi bahan olokan. Tidak melakukan hal yang sama pada orang lain yang berbeda keyakinan adalah salah satu cara merawat perbedaan ini tetap harmoni. Ya kalau gak mau dicela ya jangan mencela, kalau mau menyampaikan pendapat, lakukanlah dengan cara yang pantas.

Sudah terlalu lama kita hidup dalam kebebasan yang menurut saya kebablasan. Sejak era reformasi kita menganggap bahwa mengeluarkan pendapat adalah sebuah kebebasan tanpa batas. Di tambah pula dengan perkembangan teknologi dan media sosial yang memungkinkan transfer informasi begitu masif melintasi ruang dan waktu tanpa filter tanpa hambatan ke sudut-sudut manapun di negeri ini yang terkoneksi dengan internet. Padahal bagaimanapun informasi yang seperti ini memiliki banyak kelemahan termasuk didalammya mengenai kebenaran dan validasinya. Sementara itu kita mudah sekali percaya, terprovokasi dan menerima mentah-mentah informasi yang tersaji. Alhasil kemudian kita ribut satu sama lain. Hufh!

Sudah waktunya kita membangkitkan lagi semangat kebangsaan dalam kehidupan kita. Atau memang sudah waktunya kembali mewajibkan Penataran P4 hingga ke tingkat pendidikan tinggi. Terasa berbeda memang ketika nilai-nilai ini tidak dengan sengaja dimasukkan dalam pikir dan gerak kita sebagai warga negara. Kita lupa itu apa toleransi, gotong royong, teposeliro. Jangan-jangan saking lamanya kita tidak upacara bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan, kita juga sudah lupa syairnya. Lupa saat menyanyikan bahwa refrainnya masih harus dinyanyikan satu bait lagi. Atau bahkan kita sudah lupa apa saja lima sila yang ada di dalam dasar negara kita, Pancasila.

Jangan-jangan kita lupa bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia ini dibangun dengan perjuangan darah dan nyawa para pejuang. Mereka bukan berasal dari satu etnis saja di negeri ini, bukan hanya penganut satu agama saja, tapi mereka berasal dari seluruh Nusantara, dari Sabang sampai Merauke, hingga akhirnya berdaulatlah Negara Kesatuan Republik Indonedia. Perjuangan mereka itulah yang harus kita hargai, hingga harus tertanam dalam diri bahwa NKRI adalah Harga Mati! Gak kebayang, jangan sampai kita perang lagi namun justru dengan bangsa sendiri.

Sebenarnya kalau kita mau menoleh kembali pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara yang dicetuskan oleh Bapak Taufik Kemas yaitu 4 Pilar Kebangsaan, maka sebenarnya kondisi perpecahan karena perbedaan yang kini marak tak perlu terjadi. 4 pilar tersebut adalah Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagaimana artinya adalah tiang, maka kalau 4 pilar itu tegak kokoh menyanggah kehidupan kita maka seharusnya kebhinekaan tak akan melahirkan perpecahan.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Bapak DR (HC) Zulkifli Hasan S.E., M.M. Ketua MPR RI yang mengatakan bahwa kita memang berbeda, jadi tak perlu juga harus memaksa disama-samakan. Namun yang sesungguhnya bisa menjadi kebersamaan ya gak usah juga dijadikan perbedaan sehingga memecah belah persatuan yang sudah ada. Berpeganglah pada dasar negara yaitu Pancasila dan harus rela diatur dan patuh pada undang-undang yang mengatur itu kehidupan berbangsa dan bernegara tersebut yaitu UUD 1945.

18880177_10154845692596359_3438940422708030989_o

Sebagai seorang ibu yang kebetulan memiliki profesi sebagai travel writer, saya mencoba menerapkan empat pilar tersebut di lini terkecil yaitu keluarga dan diselipkan dalam kegiatan-kegiatan kami baik kegiatan sehari-hari di rumah maupun saat kami traveling bersama. Kalau kata Pak Zulkifli Hasan, inti Pancasila itu khan ada pada penerapan nilai-nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Kesatuan, Kerakyatan dan Keadilan. Nah terapin deh dalam keseharian kita.

Pernah saya membawa anak-anak traveling ke kota dimana saya pernah menghabiskan masa SMA saya. Kebetulan saya bersekolah di salah satu sekolah Katolik di Pekalongan dan teman saya beragam sekali, baik etnis, suku, dan agama. Anak-anak sengaja saya bawa ke dalam acara-acara pertemuan saya dengan teman-teman, bahkan mereka saya perkenalkan dengan anak-anak dari teman-teman ibunya. Mereka belajar melihat dari sisi yang berbeda, belajar melihat perbedaan. Dan senangnya saya, mereka enjoy dengan teman-teman dan hal-hal baru yang mereka temui.

Misal, di saat makan, anak-anak melihat teman barunya berdoa dengan cara yang berbeda. Saya ingat sekali raut wajah ketika mereka melihat hal tersebut sambil menggumam, “oh begitu cara mereka berdoa” saat melihat teman-teman barunya membuat tanda salib dan berdoa. Di lain waktu, mereka lah yang menjadi obyek perhatian saat menggunakan mukena dan menggelar sajadah untuk melaksanakan sholat. Mereka belajar tentang perbedaan tanpa menjadikan perbedaan itu pemisah satu dengan yang lainnya. Mereka belajar tentang perbedaan tanpa harus merasa berbeda.

Begitu juga hubungan saya dengan teman-teman saya sangat harmonis, mereka tidak memperlakukan saya sebagai minoritas hingga saya merasa inferior. Setiap berkumpul yang ada saya, mereka pasti memikirkan saya. Untuk memiloh tempat berkumpul dan makan-makan, mereka pasti mengingat bahwa ada jenis makanan dan minuman yang dilarang dikonsumsi oleh seorang muslim seperti saya. Saya ingat betul suatu ketika kami berkumpul, seorang teman berbisik, “Don, kita makan di sini ya, don’t worry, aku sudah tanya pelayannya kok, kalau di sini halal”. Dan pola demikian selalu mereka lakukan setiap kami berkumpul. Saya tetap bisa makan tanpa khawatir dan tetap bisa menjalankan ibadah di sela-sela kebersamaan.

Kami juga saling menghargai, bahkan selama pilkada berlangsung dan hingga hari ini, tak satu pun saya melihat status atau meme yang menyudutkan agama yang saya anut dan atau status-status yang provokatif dari mereka. Meski diluaran saya banyak sekalai perang status dan konten di internet dan media sosial, tak ada satupun broadcast atau hoax yang saya terima di WA grup sekolah kami tentang hal yang sama. Yaaaa, kami tentu seperti orang lain yang senang bercanda, kadang kami saling mengolok satu sama lain untuk menyegarkan suasana, namun tak satupun dari kami yang mengolok-olok agama orang lain.

18836045_10154839595056359_6698206664334589048_n

Saya yakin mereka punya ketaatan yang tak kalah dengan umat lain, saya yakin mereka punya pendapat dan keyakinan tentang agama, perbedaan dan yang menyangkut cara mereka beragama. Begitu juga sebaliknnya, saya yakin mereka tahu di mana kaki saya berpijak meski tak ikut menyulut perbedaan. Justru karena saling tahu kami tak perlu saling menuduh atau menghujat. Biar semua perbedaan nyata terlihat tanpa harus menjadi pemicu perpecahan. Biar yang paling intim antara kita dengan Tuhan ada di dalam ruang pribadi. Sikap lakum dinukum waliyadin nyata terasa dan terlihat justru dari bagaimana kita bersikap.

Kehadiran saya dalam acara Netizen Jakarta Ngobrol Bareng dengan MPR, 6 Juni 2017 kemarin, memang memberi perenungan tersendiri buat saya. Sudah berapa lama kita lupa rasanya buncah saat lagi Indonesia Raya dikumandangankan, bagaimana rasanya nasionalisme saat melihat bendera dikibarkan. Kita sudah terlalu larut dalam perbedaan, padahal berbeda itu pasti, namun bagaimana merawat persahabatan dalam kebhinekaan, itu tergantung bagaimana kita menyikapinya. Perbedaan pemahaman itu seharusnya memperkaya, bukan justru kontra produktif.

Lha kalau terus berantem kapan membangun bangsa?.

 

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Photo credit @nicholasdianto

Serba-Serbi Memilih Pakaian

Cara saya sehari-hari berpakaian seperti celana jeans, t-shirt dan penutup kepala dengan tenun ikat sebagai ...

One comment

  1. Nha gini tho, blogger jd pelopor buat kebhinekaan. Janganlah lagi gontok2an di medsos yang terbuka gt. Silakan melampiaskan di grup2 tertutup saja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge