Home » Review and Event » Because We Care: Wujud Tanggung Jawab Sosial Untuk Lingkar Tambang
Photo credit Lalu Budi Karyadi - PTNNT
Photo credit Lalu Budi Karyadi - PTNNT

Because We Care: Wujud Tanggung Jawab Sosial Untuk Lingkar Tambang

Di mata saya, membangun sebuah industri tambang itu bagai membuat sebuah peradaban baru. Dari sebuah titik terduga cebakan logam mulia di dalam perut bumi, hingga menjelma menjadi lubang luas membentang ribuan meter. Dari kerlip kecil lampu petromaks di sebuah dusun terpencil terisolir nyaris tanpa kehidupan hingga menjelma menjadi sebuah area yang memancarkan cahaya hingga ribuan watt saat malam tiba.

Tumbuhnya Sebuah Peradaban
Melihat area Batu Hijau kini, lengkap dengan semua fasilitas untuk kegiatan bisnis tambang yang menghidupi 9000 pegawai dan keluarganya, plus menjadi pusat geliat ekonomi di tiga kecamatan yang melingkarinya, sungguh bukan urusan main-main. Sebuah investasi sebesar $1,5M digelontorkan untuk kegiatan bisnis yang hasilnya tak hanya ikut dinikmati oleh puluhan ribu kepala keluarga di lingkar tambang namun juga mendatangkan pendapatan untuk negara dan pemerintah daerah.

Tentu bukan sebuah perubahan sederhana saat sebuah tempat yang hanya memiliki 150 kepala keluarga kini berkembang menjadi sekitar 17.000 kepala keluarga. Dari sebuah jalan desa yang hanya bisa dilewati transportasi kuda kini bisa memfasilitasi kendaraan pengangkut 240 ton batuan tambang di atasnya. Daerah yang dahulu defisit pangan karena sistem pertanian yang sangat bergantung pada curah, kini memiliki 7 embung dan bendungan yang menjamin pasokan air untuk pertanian mereka. Mereka bahkan kini bisa panen lebih dari satu kali dalam satu tahun.

Itu yang saya katakan bahwa pembangunan sebuah industri tambang, berarti membangun sebuah peradaban. Lihatlah apa yang terjadi di Kabupaten Sumbawa Barat sejak PT Newmont Nusa Tenggara memulai aktivitasnya sejak kontrak karya mereka di tahun 1986. Secara perlahan, kota kecil ini menggeliat lalu tumbuh dan berkembang pesat. Kini, untuk kebutuhan hidup di lingkar tambang, infrastruktur dan fasilitas semua sudah tercukupi. Newmont memikirkan semua itu bahkan hingga pengembangan sumber daya manusianya.

Ada tanggung jawab sosial yang PT. Newmont Nusa Tenggara tunaikan mencakup pengembangan SDM, fasilitas dan infrastruktur. Tak hanya buat masyarakat lingkar tambang di Kecamatan Maluk, Kecamatan Sekongkang dan Kecamatan Jereweh, namun hingga ke tingkat kabupaten dan kota yatu Sumbawa Barat dan Nusa Tenggara Barat. Baik di bidang kesehatan, pendidikan, usaha, pertanian dan pariwisata, serta sosial, budaya, agama dan kemasyarakatan.

Apa yang sudah PT. Newmont Nusa Tenggara Lakukan?
Sesuai misi PTNNT untuk membangun perusahaan tambang yang berkelanjutan dan menjadi yang terdepan di bidang keselamatan kerja, perlindungan lingkungan dan tanggung jawab sosial. Masyarakat sekitar tambang harus memperoleh manfaat termasuk kesempatan kerja dan berusaha selama dan setelah kegiatan tambang. Atas dasar inilah PTNNT menerapkan program-program tanggung jawab sosial untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat sekitar tambang (PTNNT, 2016).

Tak tanggung-tanggung, sampai tahun 2012, PTNNT telah mengeluarkan dana sekitar 50 Milyar rupiah per tahun, untuk program-program tanggung jawab sosial yang mencakup pembangunan, infrastruktur dan peningkatan kemampuan masyarakat. Jumlah tersebut di atas belum termasuk dana bantuan senilai 47 juta dolar AS kepada pemerintah daerah untuk mempercepat program pembangunan infrastruktur daerah.

Tercatat hingga tahun 2012, ada 249 proyek infrastruktur yang diselesaikan di tiga kecamatan sekitar tambang yang meliputi fasilitas ekonomi, sarana umum, kesehatan dan pendidikan. Ada lebih dari 150 pemasok dan 100 kontraktor lokal yang menjadi mitra usaha dengan total pembelanjaan barang dan jasa sekitar 296 juta dolar AS.

Di bidang kesehatan, PTNNT berhasil menurunkan angka SPR (Slide Positivity Rate) peyakit malaria masyarakat umum dan anak sekolah di sekitar operasi tambang Batu Hijau secara drastis. Pengendalian malaria yang mencakup pengawasan dan pengendalian larva nyamuk, deteksi kasus secara aktif dan pasif, edukasi pencegahan malaria, dan survei prevalinsi anak sekolah telah menurunkan angka SPR dari 26,04% di tahun 1999 menjadi 0,41% per Aug 2015 kemarin. Luar biasa!

Di bidang pendidikan, disediakan beasiswa tingkat SMP/SMA sederajat hingga ke perguruan tinggi. Sejak 1998 s/d 2014, penerima beasiswa berjumlah 14.353 siswa/mahasiswa. Sebagian besar berasal dari Kabupaten Sumbawa Barat dan Kabupaten Sumbawa. Total dana beasiswa yang telah direalisasi Rp 22,5 miliyar lebih. Beasiswa ini diberikan kepada siswa/mahasiswa berprestasi asal NTB.

Jenis beasiswa yang dterima berbeda-beda. Ada Beasiswa Bulaeng, yaitu beasiswa tertinggi bagi mahasiswa S1, S2 dan S3 dengan pembiayaan penuh. Beasiswa Emas bagi mahasiswa S1 dengan pembiayaan SPP dan biaya hidup, beasiswa Platinum yaitu beasiswa 1 tahun S2 dan S3, beasiswa Perak 1 tahun untuk siswa SMP/SMA sederajat dan mahasiswa S1, serta Bantuan Peningkatan Prestasi bagi mahasiswa S1 asal KSB. Nah tak ada alasan untuk tak mengenyam pendidikan.

Masih banyak program-program tanggung jawab sosial PTNNT untuk masyarakat. Dalam Renstra –Rencana Strategi– PTNNT untuk Pengembangan masyarakat di Kecamatan Maluk, Jereweh dan Sekongkang tahun 2009-2013, terlihat jelas bahwa tanggung jawab sosial PTNNT dilaksanakan dengan visi, misi dan sasaran yang jelas, dengan landasan dan strategi pencapaian yang terinci, serta dengan asumsi dan alat verifikasi yang teruji.

Untuk semua program tanggung jawab sosial yang dilakukan PTNNT, Pemerintah Republik Indonesia melalui Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral menganugerahkan PTNNT Penghargaan PADMA atas kinerja dan insiatif yang tinggi dalam pengembangan potensi sumber daya masyarakat. Penghargaan PADMA merupakan penghargaan tertinggi bagi perusahaan-perusahaan yang memperhatikan pengembangan dan pembangunan masyarakat.

Seeing is Believing
Selama mengikuti program Sustanaible Mining Bootcamp V, saya dan 25 peserta bootcamp lainnya berkesempatan untuk melihat langsung beberapa aktivitas program tanggung jawab sosial PTNNT di Kabupaten Sumbawa Barat terutama di daerah-daerah lingkar tambang. Pucuk dicinta ulam pun tiba, saya yang memang ingin sekali melihat langsung keadaan di lapangan, menjadi sangat bersemangat.

Saya penasaran ingin mendengar apa kata mereka tentang program-program tanggung jawab sosial yang dilakukan Newmont dengan berinteraksi langsung dengan pelaku atau orang-orang yang bersentuhan langsung dengan program-program tersebut. Kalau hanya membaca atau melihat data, rasanya kok too good to be true, harus lihat langsung. Seeing is believing, khan?

Cerita Dari Balik Bukit
Pada tanggal 18 Februari 2016, atau hari ke-5 di Sumbawa Barat, kami berkunjung ke salah satu sekolah menengah kejuruan di Kecamatan Maluk. Tempat ini terasa istimewa buat saya. Suasananya mengingatkan pada sebuah sekolah di kaki lereng Pegunungan Tengger, Jawa Timur. Bendera Merah Putih berkibar-kibar di tengah lapangan yang diapit oleh ruang-ruang belajar yang membentuk letter U. Tampak di bagian belakang, membentang sebuah bukit yang menghijau senada dengan warna rumput di lapangan sekolah.

Tercatat ada 335 orang murid yang sedang menuntut ilmu di SMKN1 Maluk, mereka terbagi menjadi 13 rombongan belajar dari berbagai jurusan. Ternyata atmosfer tambang memang lekat sekali dengan jurusan yang dibuka, yaitu Alat Berat, Kendaraan Ringan, Otomotif, serta Teknik Komputer dan jaringan. Semua berbau industri dan terkait erat dengan operasional kegiatan tambang. Survey pernah dilakukan untuk kemungkinan membuka jurusan perhotelan atau pariwisata, namun hasilnya ternyata jurusan tersebut tidak terlalu diminati.

Meski berada di kecamatan, fasilitas gedung sekolah yang mendapat akreditasi B dari pemerintah ini ini cukup lengkap. Sayang sekolah ini masih kekurangan tenaga guru produktif untuk mata pelajaran kejuruan. Namun Pak Agung, Kepala Sekolah SMKN 1 Maluk ini mengatakan bahwa rencananya mereka akan mengambil tenaga praktisi industri yang ada di sekitar Maluk untuk mengisi kekurangan tersebut.

Di sekolah ini tersedia ruang belajar atau ruang teori untuk 13 rombel dari kelas 10-12, ruang laboratorium untuk setiap jurusan, termasuk peralatan praktek seperti satu unit kendaraan ringan dan tentu saja perpustakaan. Newmont turut membantu pengadaan laboratorium IPA dan sejumlah komputer. Begitu juga untuk Praktek Kerja Lapangan (PKL), 50% siswa sekolah ini melakukan PKL di PTNNT dan sisanya di sub-kontrak PTNNT.

Merajut Asa Lewat Serabut Kelapa
Perjalanan kami hari itu berlanjut ke sebuah pabrik jaring sabut kelapa atau coconet yang dikelola oleh masyarakat di Desa Maluk Loka, Kecamatan Maluk. Saya melihat proses ini pertama kali di Kerala India yang merupakan wilayah sentra komoditi kelapa di sebelah selatan negeri Mumtaz Mahal tersebut. Ternyata kemiripan juga ada di sini. Kabupaten Sumbawa Barat juga merupakan salah satu sentra penghasil kelapa di Indonesia. Sebuah potensi besar untuk mengolah sumber daya alam yang ada di Sumbawa.

Kelapa memiliki turunan produk yang luar biasa banyaknya, seluruh bagian pohon kelapa memiliki potensi untuk dibuat menjadi berbagai produk olahan, dari produk-produk hulu maupun produk hilir, dari makanan olahan, hingga obat-obatan dan bahan baku industri. Dan beberapa dari produk tersebut bisa diproduksi dengan skala home industry atau industri rumahan. Hal ini juga ternyata sudah dilakukan oleh PT. Newmont Nusa Tenggara untuk pemberdayaan masyarakat di lingkar tambang. Selain pabrik coconet kami sempat juga mengunjungi Pabrik Virgin Coconut Oil dibawah binaan PTNNT.

Coconet adalah jaring yang terbuat dari pintalan sabut kelapa yang dirajut saling silang dengan jarak kurang lebih 10 cm x 10 cm tiap silangan. Coconet ini berfungsi untuk menutupi tanah permukaan di area reklamasi pada tahap awal. Fungsinya untuk mencegak erosi saat hujan tiba dan menjaga tanaman-tanaman yang baru ditanam agar tidak terbawa lungsuran air hujan. Luas tiap jaring sabut kelapa ini adalah 15 x 2 meter dan dijual dalam bentuk gulungan coconet.

Satu gulungan dijual seharga seratus ribu rupiah dan dikerjakan secara per kelompok dengan jumlah orang dalam satu kelompok bisa 10 s.d 15 orang. Dalam satu hari mereka bisa mengerjakan sekitar 8-10 gulung coconet, tergantung banyaknya orang dalam kelompok dan kecepatan mereka mengerjakannya. Pengerjaannya tidak sulit namun membutuhkan ketrampilan untuk memintal sabut-sabut kelapa untuk menjadi tali saut kelapa sepanjang 15 meter. Bagi pemula seperti saya jelas ini bukan hal yang mudah.

Setelah menjadi tali, barulah tali-tali ini dirajut menjadi jaring. Untuk merajutnya, tersedia cetakan besi yang terhampar di tanah sebagai alat pengait. Tali-tali tadi akan ditautkan saling silang pada batang-batang besi kecil yang menonjol mirip paku. Rata-rata memang perempuan dan ibu rumah tangga, dan beberapa orang laki-laki yang mengerjakannya. Proses sederhana ini lumayan membantu masyarakat mendapatkan pemasukan uang tambahan di sela-sela waktu luang yang mereka miliki.

Si Minyak Perawan

Usaha lainnya yang dilakukan masyarakat terkait keberadaan kelapa sebagai bahan baku yang potensial di Sumbawa adalah Virgin Coconut Oil di Desa Dasan, Kecamatan Jereweh. Usaha kecil ini memang baru dirintis, masih taraf start up di bawah binaan PT Newmont Nusa Tenggara dan bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor. Masyarakat diberi pelatihan bagaimana memproduksi VCO dan diberi modal awal berupa 1000 butir kelapa, bahan bakar serta mesin-mesin produksi.

Saya cukup optimis dengan usaha ini, teknologinya sangat sederhana dan bahan baku berupa buah kelapa melimpah. Sebutir buah kelapa dihargai hanya seribu rupiah bila diambil di tempat dan sedikit upah memanjat bagi pemetiknya. Namun bila hendak diterima di tempat, maka buah kelapa ini dapat dibeli dengan harga sekitar dua ribu rupiah per butir. Itu masih termasuk murah bila dibandingkan dengan nilai tambah yang dihasilkan.

Sayangnya seliter Virgin Coconut Oil saat ini masih dihargai hanya 60.000 rupiah saja. Namun di tempat lain di luar Sumbawa, harganya bisa mencapai ratusan ribu rupiah lho. Bahkan di Kediri seliter VCO bisa mencapai 140 ribu rupiah. Lumayan khan! Apalagi produksi VCO dikerjakan secara berkelompok, ada 3 kelompok usaha yang tiap kelompok terdiri dari 5 orang. Dalam satu kali produksi, mereka bisa menghasilkan sekitar 26 liter. Silakan hitung-hitung ya, bila dalam per jerigen yang berisi 5 liter kelapa mereka membutuhkan bahan baku 150 butir kelapa.

Mengkonversi Sampah Menjadi Rupiah
Kata sampah memang lebih sering bersanding dengan kata kotor dan bau dibanding dengan kata rupiah. Padahal, hampir semua manusia modern saat ini harusnya juga tahu bahwa ada nilai rupiah di dalam kata sampah. Masalahnya, tidak semua dari kita mau tahu bagaimana mengkonversi sampah itu menjadi rupiah apalagi mengelolanya hingga benar-benar menghasilkan uang dan memberi manfaat untuk orang banyak.

Di salah satu sudut Desa Benete, di Kecamatan Maluk ada organisasi yang melakukan hal ini. Mereka mendirikan sebuah bank sampah yang mereka beri nama Bank Sampah Laksmus. Kegiatan mereka memang masih sebatas mengelola, belum mengolah sampah-sampah tersebut menjadi produk lain, itulah mengapa mereka menyebutnya bank sampah. Dengan bantuan modal dari PT. Newmont Nusa Tenggara, mereka mengelola dana masyarakat dengan cara-cara yang serupa dengan bank konvensional pada umumnya.

Mereka menyebutnya bank sampah karena memang yang disetor masyarakat adalah sampah, namun yang disimpan di bank tersebut adalah uang hasil konversi nilai sampah mereka ke dalam rupiah. Sampah-sampah yang akan disetor ke bank, terlebih dahulu di timbang dan dipilah untuk kemudian dikonversi dengan nilai rupiah sesuai dengan jenis dan jumlahnya. Pencatatannya sangat rapih, bahkan setiap penyetor atau nasabah memiliki buku tabungannya masing-masing. Persis seperti di bank.

Bank Sampah Laksmus juga sangat mengerti kondisi nasabahnya, mereka menyiapkan armada berupa gerobak bermotor yang juga bantuan dari PT. Newmont Nusa Tenggara untuk mengambil sampah-sampah yang telah dikumpulkan masyarakat. Dua kali dalam sehari mereka melakukan pengambilan sampah di beberapa titik, baru kemudian sampah-sampah ini dibersihkan dan dipilah oleh pekerja yang mendapat upah sekitar 750.000 rupiah sebulannya.

Antusias masyarakat dengan keberadaan bank sampah ini bagus sekali, tak kurang dari 700 orang telah tercatat secara resmi sebagai nasabahnya dengan saldo bervariasi antara 300.000 sampai dengan 1 juta rupiah. Jadi bisa dibayangkan ya berapa kira-kira jumlah dana masyarakat yang dikelola oleh bank sampah ini. Daripada membuang sampah, lebih baik sampahnya ditabung.

Bebas Mengambil Namun Rawat Penuh Tanggung Jawab
Tempat ini kami kenal dengan nama ComDev, singkatan dari Community Development, letaknya di Desa Benete, Kecamatan Maluk. Tak jauh dari Bank Sampah Laksmus berada. Sebelum menjadi kota kecamatan, Maluk dan Sekongkang adalah bagian dari Kecamatan Jereweh. Saat itu belum dikenal istilah Corporate Social Responsibility (CSR) dan ComDev adalah istilah yang digunakan untuk program-program pengembangan masyarakat PT. Newmont Nusa Tenggara untuk tiga kecamatan ini.

Salah satu aktivitas yang dilakukan di Comdev ini adalah penyediaan bibit tanaman. Area seluas 2 hektar ini lebih mirip kebun rekreasi. Di kiri kanan pedestrian berjajar tanaman-tanaman produktif seperti Pohon Jambu, Nenas, Jeruk, Delima, Srikaya dan perkebunan Buah Naga sebagai tanaman selingan. Aktivitas utama di tempat ini sebenarnya adalah pembibitan berbagai jenis tanaman keras yang nantinya boleh diambil oleh masyarakat tanpa dipungut biaya.

Sebelum awal musim tanam, setiap tahunnya PTNNT melalui ComDev menyediakan tak kurang dari 100 bibit pohon tanaman keras dari berbagai jenis seperti Nimba, Mahoni, Sengon dan lain-lain. Bibit-bibit inilah yang boleh diambil oleh masyarakat untuk ditanam di lahannya. Biasanya ComDev akan melakukan survey terlebih dahulu pada masyarakat yang akan mengambil bibit, terutama lahan yang akan ditanami. Karena, meskipun cuma-cuma, PTNNT mengharuskan masyarakat tersebut merawat dan menjaga tanaman-tanaman yang bibitnya diambil dari ComDev tersebut.

Selain menyediakan bibit tanaman, kami juga melihat langsung budidaya padi dengan menggunakan teknologi SRI (System of Rice Intensification) di ComDev. Budidaya padi dengan sistem ini menjadi percontohan bagi masyarakat sekitar. Dengan teknologi ini, petani bisa memanen lebih dari satu kali dalam setahun dan lebih efisien dalam pola tanam dan perawatannya. Budidaya ini diperkenalkan sejak tahun 2009 dan berhasil meningkatkan produksi padi petani di sekitar tambang dari 4,59 ton menjadi 6,44 ton per hektar.

Imaji yang mewakili
Masih ada beberapa bentuk program-program tanggung jawab sosial PTNNT yang dilakukan di wilayah lingkar tambang. Cerita di atas hanyalah beberapa yang sempat kami kunjungi. Dalam tulisan yang akan datang masih ada lanjutan tulisan tentang hal ini dalam kemasan wisata yang menarik. Saya pastikan anda harus mengintip tulisan nanti tentang konservasi si mungil Tukik di Pantai Maluk, sistem pengairan dan kecantikan Air Terjun Perpas, Hutan Wisata Edukatif Lawar dan Budidaya Rumput Laut di Pantai Kertasari.

Bukan, bukan untuk menjajakan betapa pedulinya PT. Newmont Nusa Tenggara melakukan pengembangan masyarakat Sumbawa Barat, terutama bagi mereka yang berada di lingkar tambang. Apa yang kami lihat, apa yang kami rasa, dan apa yang kami dengar sudah mewakili imaji betapa bertanggungjawabnya perusahaan ini terhadap bumi yang memberinya manfaat, Bumi Batu Hijau!

Tertarik untuk cerita selanjutnya?

Seperti biasalah…, kalimat andalan saya, “stay tune!”

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG20170405103421

Forward Your Dreams: Catatan dari Peluncuran Brand Promises CIMB Niaga

Memiliki impian ternyata bukanlah hal sederhana bagi orang dewasa. Di masa kanak-kanak kita sangat mudah ...

13 comments

  1. Lha, giiliran saya mampir kok malah ngantuk sih Mbak .. hehe

  2. desa balik bukit, desa lingkar tambang itu kok kayak kampung halaman Indra kecil dulu yaaa….. yang gak ada cuma danau dan pegunungan itu ajaaa… hehehe….envy lho lihat mba donna dan mba evi bisa ke sana.

  3. Sekolah nya keren, lokasinya asik juga ya mbak. Dan itu VCO harganya murce…aku beli di mall aja udah 240rb, kulakan mbaaak, hahaha

  4. Jarang sekali perusahaan yang akan perduli dengan sekitarnya.
    Karena mereka prinsipnya sekedar mencari untung dan setelah itu kabur.
    PT. Newmont Nusa Tenggara, patut ditiru perusahaan besar lainnya.
    Djangkaru Bumi recently posted…Masjid Baiturrahmah Kavling SemperMy Profile

    • donna imelda

      Bener banget, Djangkaru. Praktek pertambangan yang sustainable seperti yang dilakukan PTNNT rekomen banget utk jadi role model industri tambang lainnya

  5. Seruuuu banget jln2nya mba,… akh jadi tahu nih lingkar kehidupan di daerah tambang. Kupikir panas dan berdebu hihihi.

    • donna imelda

      Iya, Irma… beberapa tempat memang panas dan berdebu seperti di areal tambang, namun beberapa tempat lain yang kami kunjungi tidak. Bahkan beberapa tempat sangat indah.

  6. Wah syukur kalau begitu,,,, berarti tak mengeruk hasil kekeyaannya saja ya mbak, tapi juga memperhatikan masyarakat atau warga sekitar,,,, Eh itu catet – catet pendapatan hari ini,,, dapat pemasukan berapa mbak? hehehee,,, keren dah mbak, pengalaman ke PT Newmoon ini sungguh mengesankan 🙂
    Anis Hidayah recently posted…Angkringan Nganggo Suwe, Angkringan yang Pakai LamaMy Profile

  7. Luar biasa. Jalan-jalan yang penuh pelajaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge