Home » Family and Parenting » Ada Apa dengan Kita dan Tuhan
kita dan Tuhan

Ada Apa dengan Kita dan Tuhan

Rasanya musik masih mengalun di benakku, menyenandungkan syair Ebiet G Ade melalui lirih suaraku di sela2 pekerjaan menyelesaikan laporan semesteran seharian ini, karena lagu tersebutlah yang berulangkali terdengar dari pesawat televisi yang sejak dihidupkan karyawan tadi pagi tidak tersentuh olehku untuk berganti saluran hingga aku pulang satu jam yang lalu malam ini.

“Anugerah dan bencana adalah kehendakNya, Kita mesti tabah menjalani”

Sesekali mengerling ke arah kotak ajaib itu, melihat perkembangan saudara2 kita di sekitar Yogyakarta dan Mentawai. Benakku terusik….tak terungkap kata.

Lirik, “ini bukan hukuman, hanya satu isyarat, bahwa kita mesti banyak berbenah” , mengambil ruang cukup besar dalam pikirku. Teringat sempat menjadi pembicaraan hangat di salah satu jaringan sosial lain mengenai bencana yang bertubi-tubi menimpa negeri ini. Tak sedikit yang mengatakan ini adalah teguran Tuhan, azab Tuhan, hukuman Tuhan dan berbagai istilah lain yang buat aku malah berpikir….kasihan saudara2 yang tertimpa musibah, apakah segitu berdosanya mereka sehingga harus menanggung derita seperti itu, dan apakah saya, kita2 ini, pemimpin negeri ini tidak berdosa sehingga luput dari bencana? Bukankah memang seharusnya kita sudah berbenah?

jadi bila lirik lain dalam lagu diatas juga tertulis :

“Hanya cambuk kecil agar kita sadar, Adalah Dia di atas segalanya”. saya setuju sekali.

Kenapa harus mendikte Tuhan supaya jangan hujan,apatah agar kita gak kena macet, gak telat sampai dirumah, gak kena banjir, gak basah kehujanan, gak repot? Bukan kah tambah repot kalo tidak ada hujan?

oh no no no, donna…..maksud nya mungkin hujan nya jangan lama2, atau jangan terlalu deras.

ah,lagi lagi kita hendak mengatur Tuhan.

Atau itu memang hal termudah yang bisa kita lakukan, mempertanyakan dan menuntut, daripada harus repot2 ikut mikirin gimana cara keluar dari masalah macet dan banjir saat musim hujan tiba.

Seperti orang yang duduk dihadapan ku siang tadi, yang fasih sekali berujar tentang hal2 yang harus dibenahi “disini” tapi tak mau repot ikut berpikir apalagi ikut berbenah.

saya hanya berpikir, apa yang menjadi hak prerogatif Tuhan, tak usahlah dipertanyakan. Alam dan fenomena di dalamnya adalah sunatullah. Bukankan untuk itu manusia dibekali otak dan nurani? Untuk itu lah kita harus berbenah.

Buat saya Tuhan itu maha baik…dia selalu memberikan yang terbaik, tinggal bagaimana kita mengambil sikap dan hikmah.

“maha sempurna Allah dengan segala rencana-rencana Nya”

============================================

emmm….sebenarnya saya enggan bicara tentang Tuhan dan nilai2 spiritual secara terbuka. Kalau ingin membicarakannya saya lebih suka membicarakan dalam lingkungan yang lebih kecil. Lebih mudah memahami dan berinteraksi langsung bila tidak paham. Tidak harus sepaham memang, dan tidak harus sok tau juga, apalagi sok bersih atau sok suci…merasa paling benar…..karena urusan spiritual sejatinya hanya Sang Pencipta dan yang diciptakannya lah yang tau.

Tapi malam ini saya tergelitik untuk menulis yang tema nya saya gak tau (jadi judul diatas dalam konteks sebuah ketidaktahuan). Yang saya tau bahwa ada dorongan yang kuat untuk menulis, saat saya mendapati buah hati saya bercucuran air mata seraya membukan pintu untuk bundanya yang baru saja pulang kerja, dengan isi kepala masih tentang syair2 lagu “untuk direnungkan” nya om Ebiet masih bergema di hati saya sejak dikampus tadi.

Sang kakak, melaporkan tanpa diminta.

“Hani nangis nda, gara-gara mbak cerita tentang hari kiamat !”

“sekarang hani takut mau ngapa2in”, tambahan dari diba

*saya nepok jidat. Hah..kecolongan deh gue…..

karena saya selama ini, sejak mereka lahir, sudah berkomitmen bahwa nilai2 spiritual di rumah ini dibangun bukan diatas wacana dosa dan pahala, bukan dalam konteks surga atau neraka. Tak ada ketakutan dan keterpaksaan, sehingga agama dan Tuhan begitu menakutkan, tapi memang karena kebutuhan kami, si manusia yang hamba ini.

Dirumah kami ada aturan, tapi tidak ada hukuman. Mentolerir kesalahan tapi tetap harus jujur dan mengakui serta meminta maaf lalu memperbaiki diri, mengulang kesalahan yang sama berarti jalan ditempat alias gak lebih baik dari sebelumnya. Jadi bukan karena bunda atau ayah ntar marah…

Kami mengajarkan seluruh nilai2 hidup dan ibadah pada anak2 dalam sebuah keindahan.

gak ada tuh istilah, jangan lupa pake seatbelt, ntar ditangkap polisi. Jangan nangis ntar disuntik dokter. Jangan bohong ntar masuk neraka. hayo pada sholat biar masuk surga…..awas jangan main malam2, banyak setan..dst dsb.

Bukan seperti itu kami mendidik mereka. Karena selalu ada alasan yang masuk akal dan bisa dijelaskan secara logika untuk setiap aturan yang mengatur hidup kita, baik aturan yang dibuat manusia maupun aturan Tuhan. Semua untuk kebajikan kita dan menjaga kita, gak perlu ditakut-takuti.

kenapa gak kita katakan, pakai seatbelt untuk keselamatan kita, dokter akan membantu kita mencarikan obat yang tepat, obat yang pahit itu membantu kita supaya sembuh.

Sholat, ngaji bukan supaya dapet pahala dan masuk surga, itu perhitungan nya otomatis dari Tuhan. Tapi sholat membuat kita selalu terhubung dengan Tuhan….dan banyak kebajikan lain dibalik setiap ibadah yang dicontohkan Nabi.

Ucapan2 Basmalah, hamdalah, istighfar, insyaallah dll mengafirmasi mereka untuk selalu dalam keadaan syukur dan berharap, selalu melibatkan Tuhan dalam setiap kegiatan supaya tetap rendah hati dan punya pengharapan sebagai hamba.

Anak2 tumbuh dengan sendirinya saja, sesuai dengan umur mereka dan dari contoh serta ajakan kami untuk belajar beribadah. Filosofi hidup kami ajarkan dalam setiap kebersamaan kami terutama pada setiap kesempatan kami berpergian bersama, sehingga kami selalu belajar dari apa yang kami lihat, apa yang kami dengar dan dari setiap orang yang kami temui. Dan diatas semua itu…ada Tuhan yang selalu melihat dan menjaga kita. Jadi ada bunda atau tidak ada bunda, selalu ada Tuhan yang melihat dan menjaga kalian. Tak ada yang lepas dari pengawasan Tuhan meski bunda tidak bersama kalian.

Nilai2 itu terjaga didalam rumah, tapi mereka membesar dan tumbuh, berinteraksi dengan banyak orang disekitar rumah dan sekolah, dan masuklah2 nilai2 yang berbeda dalam diri mereka. Itu membuat tugas kami bertambah, sebagai penjaga kesetimbangan….kami tidak mau mereka kebingungan.

susah2 gampang memang….seperti malam ini…hhuuffhhh.

Aku tuntun rani ke kamar atas, aku temani dia wudhu untuk sholat isya, sambil dengan lembah lembut mengatakan. “dalam Al-Fatihah, Allah bilang apa Ran…? Ar-Rahman Ar Rahiim khan? …artinya Allah maha pengasih lagi maha penyayang, sayang”.

(Aku tak ingin menambah takut nya dengan membahas soal urusan kiamat, neraka apalagi azab, hanya membebani pikirnya malam ini)

saya melanjutkan dengan mengatakan, Insyaallah Allah pasti sayang kita dan tempat kita di surga. Tugas kita hanyalah melaksanakan apa yang Allah perintahkan dan tidak melakukan apa yang Allah larang, meskipun misalnya surga dan neraka itu tidak ada.

Allah sayang kita kok Ran…pasti sayang kita.

ntar pelan2 makin rani besar, makin banyak deh yang Rani tau nanti….

Allah khan seperti prasangka umatnya…..

Rani percaya khan kalo Allah sayang kita?

Ketika Rani mengangguk, aku pikir malam ini cukup untuk membuatnya lega

dan Rani memulai sholat nya.

==================

oh anakku…belajar memang bukan instan….akan makan waktu seumur hidupmu nak.

Kita akan senantiasa belajar dan terus belajar, pada setiap nafas yang kita hirup

Tapi jangan pernah ketakutan, cemas, dan pikiran2 negatif lain yang menjadi penggeraknya.

Kita punya Tuhan dan kasih sayang Nya…dan itu berarti cukup.

*ucapku dalam hati

Nirmala, 1 November 2010

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

P8140535 - Copy

traveling asyik dimata anakku, lagu rindu sang bunda di bibir anaknya…

 Karena lagu yang tinggal diam di dalam hati seorang ibu, bernyanyi diatas bibir anaknya. Cuplikan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge