Sunday, September 24, 2017
lentera jiwa

Lentera Jiwa

Banyak bibit dalam diri manusia, ada bibit kebodohan, keserakahan, kemarahan, iri hati dan dendam. Juga ada bibit kesabaran, kasih sayang, cinta, memaafkan dan persahabatan. Pertanyaan berikutnya, bibit-bibit mana yang kita sirami setiap harinya?

Demikian Gede Prama menuliskan kembali apa yang pernah ditulis Thich Nhat Hanh dalam sebuah pengantar yang bertajuk menyirami kesabaran, memetik keteduhan di buku kedua Andy F Noya; Andy’s Corner.

Tulisan itu sengaja saya kutip kembali hari ini, untuk mengingatkan saya bahwa 3 bulan terakhir ini saya sibuk menyirami bibit-bibit kemarahan dalam diri saya. Saya mampu merasakan tunas-tunas nya mulai tumbuh subur, menyembul menusuk ruang kalbu membuat saya tidak nyaman dengan semua aktivitas saya. Sedemikian mengganggu saya di setiap langkah yang akan saya mulai pagi hari atau pada malam-malam dimana seharusnya saya memberikan hak tubuh saya untuk beristirahat.

Sinyal fisik dan psikis yang mulai terganggu, memberi peringatan bahwa saya harus segera menghentikan proses tumbuh kembang bibit2 yang salah itu bila saya tidak ingin menuai prahara yang akan menyiksa saya ke depan. Saya harus segera beralih menyirami bibit-bibit lain yang saya punya, minimal bibit kesabaran karena saya belum mampu berkompromi dengan siapapun yang atas nama apapun meninggalkan sejumlah tanggung jawab dengan cara yang diluar etika umum kepantasan dan kepatutan.
Membuat sejumlah orang termasuk saya harus berada di kondisi sekarang. Menerima sejumlah kesemrawutan demi sejumlah jiwa yang kami ampu agar bisa tetap berjalan sebagaimana mesti nya meski saya mel;akukannya dengan penuh ketidakrelaan….saya marah.!!

Empat buah buku, 2 seri Andy’s Corner dan 2 kumpulan kisah inspiratif dari Kick Andy saya letakkan diatas tempat tidur saya persis di tempat dimana kepala saya ada bila saya merebahkan diri dan berpesan pada staf ahli di rumah untuk tidak memindahkan kembali ke rak buku seperti yang biasa dia lakukan setiap pagi pada setiap buku yang saya baca malam harinya.

Buku selalu menjadi obat semua penyakit saya, begitu pula sakit saya kali ini, sakit yang membuat hati saya kian meradang, meranggas dan meredupkan lentera jiwa yang saya punya di sudut kecil jiwa yang selama ini saya jaga cahaya nya agar tak pernah redup sampai saya mampu memberi ruang lebih besar agar nyala nya nanti besar dan tidak hanya menerangi jiwa saya tetapi juga menerangi jiwa-jiwa lain di sekitar saya.

Menganalogikan diri bagai seekor ikan dalam sebuah kolam, saya ikan kecil yang ingin terus tumbuh besar. Namun dua tahun belakangan saya merasa tidak bisa tumbuh lagi…bahkan kejadian demi kejadian tiga bulan terakhir ini membuat saya bukan hanya tidak bisa tumbuh, tetapi membuat saya kerdil. Kolam ini menjadi terasa sesak buat saya. Ada dorongan yang luar biasa yang menghentakkan detak jantung saya. Mendorong saya untuk keluar dari labirin yang selama ini sebenarnya membuat saya merasa nyaman, keluar membawa dan hidup bersama lentera jiwa saya dan mengikuti kata hati saya.

Istilah lentera jiwa saya rasakan klik dengan saya ,saat Andy F Noya mengatakan hal ini dalam bukunya yang saya baca kembali beberapa malam ini.

Beliau mengatakan bahwa ukuran yang paling sederhana untuk mengukur apakah dalam bekerja , mengerjakan sesuatu sehari-hari atau pun berkarir kita sudah menemukan lentera jiwa kita adalah KEBAHAGIAAN.

Tidak perduli apakah kita karyawan, wirausahawan, besar atau kecilkah gaji kita, tinggi atau rendah kedudukan kita…pertanyaannya adalah :
apakah kita bahagia?,
apakah kita senang mengerjakan tugas yang diberikan kepada kita?,
apakah kita mengerjakannya dengan hati atau sekedar demi mempertahankan hidup?

Lentera jiwa bukan permasalahan benar atau salah, tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar disini. Persoalannya adalah hanya pada keinginan kita untuk mencari kebahagiaan sebagai manusia. Dalam hal ini bila konteksnya adalah pekerjaan dan karir maka untuk mencapai kebahagiaan itu kadang seseorang harus menempuh resiko. Resiko kehilangan jabatan, kehilangan sejumlah pendapatan dan keluar dari kenyamanan yang mungkin kita nikmati selama ini.

Tetapi bila ada sesuatu yang selalu mengusik benak kita, sesuatu yang terus menerus mendorong kita untuk mendapatkan sesuatu yang akan membuat kita merasa bahagia, mungkin itu yang kita….anda…saya….sadari bahwa “sesuatu” itu adalah lentera jiwa.

Menjadi “guru” adalah pilihan hidup saya, dan berbagi adalah peristiwa yang selalu membuat saya bergairah, selalu membuat saya bersemangat kala berada di tengah2 manusia yang selalu haus untuk belajar , terharu melihat bagaimana manusia2 pembelajar itu menggunakan jiwa untuk mencerna pelajaran itu dan kemudian secara estafet berbagi lagi untuk orang lain.

Sungguh segunung Kebahagiaan yang tidak dapat menggantikan ditempat dimana saya duduk hari ini…tempat yang boleh siapapun duduki….

==================================

Selamat menemukan lentera jiwa anda
Lembah Nirmala : 9 Maret 2010

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

P_20160401_151657

Kebun Raya Eks Tambang Emas Minahasa, Sebuah Persembahan Bagi Alam

Berkali saya melihat gambar yang sejatinya memancing imaji keindahan. Lubang-lubang putih menganga, berserakan di sebuah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge