Home » Volunteering » Salam Inspirasi dari Pulau Payung
pantai adalah kelas kami dan langit adalah atapnya
pantai adalah kelas kami dan langit adalah atapnya

Salam Inspirasi dari Pulau Payung

Apa yang ada di benak kalian tentang sekolah yang jumlah muridnya hanya enam belas anak, dari kelas satu sampai dengan kelas enam. Lalu terbayangkah siapa yang jadi peserta upacara karena semua murid akan jadi petugas upacara bendera. Dari Pulau Payung, SDN Tidung 04, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, kami membawa ceritanya untuk anda.

Cerita ini sebenarnya sudah berlangsung lebih dari satu tahun yang lalu, tepatnya 25 Agustus 2014. Saat itu 87 orang relawan dari Komunitas Inspirasi Jelajah Pulau (KIJP) batch 2 yang terdiri dari 66 orang relawan pengajar dan 21 orang dokumentator serentak bergerak menuju 8 sekolah di 6 pulau yang berbeda di kawasan Kepulauan Seribu. Hari itu adalah Hari Inspirasi, hari dimana kami para relawan berbagi inspirasi kepada anak-anak sekolah dasar melalui cerita tentang profesi kami.

KIJP…, Membangun Inspirasi Anak Indonesia
KIJP berawal dari 30 orang luar biasa yang peduli terhadap pendidikan dasar anak. Mereka para profesional yang peduli terhadap pendidikan dasar anak di Kepulauan Indonesia dan ingin sekali membawa semangat Kelas Inspirasi ke pulau-pulau kecil di sekitar Jakarta. Melalui berbagai persiapan dan berbekal semangat yang luar biasa tersebut, maka terlaksanalah Pilot Project Kelas Inspirasi Jelajah Pulau di 4 sekolah dasar di Pulau Tidung dan Payung pada Bulan April tahun 2014 yang kemudian setelah terbentuk komunitas ini, kami menyebut kegiatan KIJP pertama ini sebagai Batch 1.

Hingga tulisan ini dibuat pada bulan September 2015, KIJP telah melaksanakan Hari Inspirasi sebanyak tiga batch dengan perkembangan jumlah relawan yang signifikan dari setiap batch-nya. Dari hanya 30 relawan, kini sudah ada 173 orang relawan, baik pengajar maupun dokumentator yang terlibat di batch 1, 2 dan 3. Berawal hanya di 4 sekolah dasar di 2 pulau, sekarang telah terlaksana di 12 sekolah dasar di 6 pulau yang berbeda.

Pada tahun yang sama di Bulan Agustus 2014, berlangsung lagi KIJP batch 2 yang sedang saya ceritakan ini. Berlangsung di 9 sekolah dasar di 6 pulau yaitu di Pulau Tidung, Pulau Payung, Pulau Pari, Pulau Lancang, Pulau Kelapa dan Pulau harapan. Sedangkan batch 3 telah berlangsung kemarin pada Bulan Maret 2015. Melibatkan 104 relawan pengajar dan 29 relawan dokumentator, untuk 8 sekolah dasar di 6 pulau. Di batch 3 ada tambahan 2 pulau baru yaitu Pulau Panggang dan Pulau Pramuka, tanpa Pulau Payung dan Pulau Tidung.

Nah, bocorannya nih. Saat ini sedang dipersiapkan batch 4 yang rencananya akan diadakan pada Bulan Oktober 2015 dengan melibatkan seluruh pulau yang pernah didatangi KIJP di batch 1,2 dan 3 dan tambahan satu pulau baru yaitu Pulau Untung Jawa. Sehingga total akan ada 13 sekolah dasar di 9 pulau yang berbeda. Sayangnya, pendaftaran relawan untuk batch 4 sudah selesai tanggal 12 September 2015 yang lalu, sehingga bagi teman-teman yang tertarik ikutan, tunggu batch berikutnya ya.

Bertumbuh, berproses dan berkesinambungan
Salah satu yang saya suka dari program KIJP adalah karena mereka tak hanya datang ke pulau, mengajar lalu pulang. Bekerja sama dengan pemerintah dan pihak sekolah, KIJP juga melakukan program-program yang tak hanya menyentuh aspek sekolah, namun juga lingkungan maupun masyarakatnya secara berkesinambungan dan terus bertumbuh. Kegiatan tak hanya dilakukan di pulau namun juga di daratan, mereka berkumpul, mengevaluasi perkembangan kegiatan KIJP, dan selalu kreatif memikirkan program-program berikutnya.

Saya melihat ini adalah sebuah pencapaian yang luar biasa, dengan peningkatan tak hanya dari jumlah relawan dan jumlah pulau yang didatangi, namun juga program-programnya. Mudah-mudahan KIJP bisa menyentuh seluruh sekolah dasar di Kepulauan Seribu yang berjumlah 17 sekolah dasar ini. Masih ada satu sekolah di Pulau Sabira yang belum tersentuh plus 3 madrasah yang tersebar di Pulau Tidung, Pulau Panggang dan Pulau Kelapa.

Romansa Kapal Kayu
Nah, setelah di batch 1 urung berangkat , di batch 2 saya ditempatkan di SDN Tidung 04 yang berada di Pulau Payung Besar bersama empat orang lainnya. Hanya ada satu sekolah dan sekitar beberapa puluh kepala keluarga yang tinggal di pulau kecil tersebut. Tak ada homestay di sana, karena memang pulau tersebut bukan tempat kunjungan wisata sehingga kami berlima yang terdiri dari empat orang pengajar dan satu orang dokumentator ini menginap bersama-sama relawan lain yang ditempatkan di homestay terdekat yaitu di Pulau Tidung.

Pukul enam pagi kami sudah bergerak dari homestay menuju dermaga Pulau Tidung untuk berlayar selama kurang lebih 20 menit ke Pulau Payung Besar menggunakan kapal kayu nelayan. Saat itu kami tak hanya berlima, namun beserta beberapa guru dan seorang murid SDN Tidung 04. Ya, guru-guru ini juga tidak tinggal di Pulau Payung Besar tempat mereka bertugas, bahkan gadis kecil ini juga yang lelap tertidur di kapal selama perjalanan. Setiap hari mereka berperahu menuju sekolah.

Buat saya, saat itu yang terasa mungkin sebuah romansa. Nun jauh dari hiruk pikuk kota Jakarta, berperahu di pagi hari ditemani mentari yang perlahan keluar dari peraduannya terasa begitu manis. Namun satu yang harus disadari bahwa ini bukanlah perjalanan wisata, kami relawan ini sedang bertugas. Kami belajar merasakan dan memaknai dedikasi guru-guru ini. Membawa misi dan turut berkontribusi nyata dalam pendidikan anak Indonesia.

Terbayangkah cerita mereka saat musim angin atau musim hujan tiba. Perahu diterpa hujan dan gelombang mengombang-ambingkan perahu. Saya sempat berseloroh menyatakan rasa takut saat perahu kami sedikit keras terhempas gelombang kepada ibu guru yang menyertai kami. Mereka menjawab dengan senyum, “ini mah belum apa-apa, kadang ombaknya bisa lebih gede dari ini, mbak.” Duh…

Karena pantai adalah kelas kami dan langit biru adalah atapnya
Opening kami lakukan dengan upacara bendera dan sedikit permainan. Hal yang unik terjadi saat upacara bendera. Terbayangkah bagaimana situasi upacara yang berlangsung dengan jumlah murid sebanyak 16 orang dan sebagian besar menjadi petugas upacara. Peserta upacara hanya beberapa murid saja, plus 6 guru dan 5 orang relawan. Lapangan sekolah yang besar pun terasa lengang. Mungkin hal ini yang menyebabkan upacara tidak dilakukan setiap hari Senin di sekolah ini.

Kami para relawan memutuskan untuk melaksanakan kegiatan di pinggir pantai yang letaknya hanya beberapa puluh langkah saja dari sekolah. Secara bergiliran kami berbagi cerita dan pengalaman tentang profesi kami, tentu saja dengan suasana yang menyenangkan dan dengan bahasa yang dimengerti anak-anak. Sesekali kegiatan ini kami selingi dengan permainan agar tidak membosankan namun tetap menyelipkan pesan-pesan moral dan nilai-nilai luhur dalam permainan tersebut.

Jangan sangka ini tak ada tantangannya meski hanya 16 orang. Tak mudah membuat mereka fokus apa yang kita sampaikan, tak mudah juga memberi bayangan tentang profesi kita pada mereka yang sehari-hari hanya berada di pulau, berteman laut dan kehidupan pantai. Belum lagi mereka yang saling mengganggu dan bertengkar satu sama lain. Ada yang lempar-lemparan pasir atau buah pinus, pukul-pukulan dan mengakibatkan yang lain menangis. Pokoknya ramai dan seru meski hanya mereka hanya segelintir.

Meski pantai adalah hal yang biasa buat anak-anak, tapi ternyata bermain sekaligus belajar memberikan suasana yang berbeda bagi mereka. Menyenangkan melihat bagaimana anak-anak mencoba memvisualisasikan diri dan impian mereka melalui alat tulis dan kertas berwarna yang dibentuk dan ditempel di buku gambar. Apa yang mereka buat seolah menceritakan apa yang ada dalam benak mereka. Ada yang membuat kapal selam lho.

Rangkaian kegiatan kami tutup dengan melepas lampion di dekat dermaga. Anak-anak kegirangan meski berada di bawah sengatan panas matahari di siang hari. Meski tak seluruh lampion berhasil diterbangkan, namun semangat kami tetap tinggi, berharap bahwa impian dan cita-cita anak-anak yang terbangun hari ini nun jauh tinggi melampaui diri mereka, terbang mengangkasa ke Sang Pemilik skenario dan dikabulkan suatu hari kelak. Karena pada mereka, kelak kami titipkan negeri ini.

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

team SDN Babakan Surabaya

Janji Kemerdekaan

Bahwa kewajiban semua anak bangsa yang terdidiklah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.  Sebuah janji kemerdekaan yang ...

6 comments

  1. Suka sama tulisan ini. Buanget sukanya <3
    Lestarie recently posted…Blog Tour + Giveaway Single Happy – Memori Cinta Anak KosMy Profile

  2. sangat memberikan inspirasi bagi saya 🙂 semoga anak-anak bangsa bisa mmebanggakan indonesia kedepannya 🙂

  3. Ceritanya penuh inspirasi Mbak.. Salam kenal ya dari Lilis.. juga seorang guru
    Lilis recently posted…Cara merubah PIN Kartu ATM Bank Mandiri dari 4 Digit menjadi 6 digit lewat mesin ATMMy Profile

  4. mudah-mudahan cita-cita mereka tercapai ya mbak. Asyik ya bisa belajar di pantai
    Lidya recently posted…Kota BekasiMy Profile

  5. Indah banegt tempatnya, enak bisa mengabdikan diri di tempat seperti itu dengan anak-anak yang panttang menyerah, bisa bersinergi dengan alam.

  6. Ya ampun.. kebayang yah kalo ujan atau badai pagi pagi, gimana caranya mereka berangkat sekolah 🙁
    Tapi salut mereka tetep semangat meskipun harus naik kapal dulu setiap pagi ^_^
    Pungky recently posted…Maya Bay, Bukti Pelampauan Batas Diri SendiriMy Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge