Home » Flash Fiction » 25 Januari
253

25 Januari

“Ini bunganya, bu”
“Semuanya segar, bukan? pastikan dua puluh lima tangkai jumlahnya ya”
“iya, bu, semua bunga pilihan ibu, sudah kami hitung ulang”.

251Aku sedikit menyesal terlalu rewel di toko bunga tadi. Satu  buket Bunga Mawar  sudah berpindah ke genggamanku sekarang, senada warnanya dengan gaun yang aku pakai. Wanginya menguar memenuhi kabin mobil.

“Langsung jemput bapak, bu?”

“Tidak, kita ke Tanah Kusir dulu, pak. Lewat jalan tol saja!” perintahku pada Pak Man saat mobil bergerak perlahan meninggalkan Rawa Belong. Matahari makin bergulir ke barat, awan mulai terlihat menghitam di langit. Januari adalah puncak musim hujan di Jakarta. Aku tak mau riasanku rusak karena hujan yang bisa turun kapan saja.

Bagai deja vu. Setahun yang lalu bunga serupa, juga berjumlah dua puluh lima tertata rapi di ruang makan. Kala itu hujan deras tiada henti hingga malam. Sesekali guntur menggelegar diantara kilat yang menyambar. Malam istimewa terasa kelam, gaun putihku mulai lusuh, menanti ia yang tak kunjung datang. Mungkin sedang memilih hadiah istimewa untukku. Aku resah. Meski masih ada waktu sebelum jam berdentang di angka dua belas, namun sudah terlalu larut untuk makan malam. Nomor yang kuhubungi dijawab seorang wanita bersuara renyah, “Tuan Julian masih rapat, bu. Nanti akan saya sampaikan pesan ibu pada beliau”.

Pesan yang mungkin tak pernah sampai, aku tak juga menerima balasan. Yang kuterima adalah kabar, si pemilik suara renyah itu hilang ditelan air sungai bersama kekasihku yang gagal mengendalikan mobilnya yang tergelincir saat hujan deras mengguyur kawasan Puncak. Menabrak jembatan dan jatuh ke Sungai Ciliwung di Cisarua.

Tertulis di nisanmu, 25 Januari 2013. Kutinggalkan 25 kuntum bunga mawar putih di pusara. Beristirahatlah dalam damai. Tak perlu lagi kau repot memilihkanku hadiah atau terburu-buru pulang. Aku telah menyiapkan hadiah untuk diriku sendiri, yaitu memaafkanmu.

“Kita jemput bapak sekarang, Pak Man”

Mobil pun melaju bersamaku di dalamnya, menjemput suamiku untuk merayakan hari istimewa ini.

Ditulis dalam rangka ulang tahun Monday Flash Fiction yang pertama.

 

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Dokumen Pribadi

Prompt #48 Yang Tergantikan

Aku bergegas melangkah. Susah payah aku berjalan melewati gundukan demi gundukan tanah sambil terus memegangi ...

14 comments

  1. Ah,pada mati nih ff nya

  2. sari widiarti

    kasian nih.. endingnya mati 🙁

  3. Pemakaian tanda baca dan huruf kapitalnya masih harus diperhatikan lagi 😀
    Juga penataan alur 😀
    Semangat!!

    Makasih sudah ikutan nulis di antara kesibukan2nya :-*

    • donna imelda

      Siaaaappp, nanti aku perhatikan bagian mana yang harus dibenahi. Tulisan berikutnya harus lebih baik, mudah2an cepat belajar. Makasih banget ya mbak koreksinya.

  4. okeee jadi ini dia nikah sama orang lain, setahun yg lalu kekasihnya kecelakaan? gitu ya mbak? sorry agak bingung hehe tp suka sih

  5. keterangan menikah lagi-nya jangan di komen-komenan dong… harus tersirat di cerita biar ndak capek njawab kalau ada yang nanya. soalnya aku juga hampir menanyakan hal yang sama 😀

    terima kasih sudah ikut berpesta ya 🙂

  6. Sebenarnya agak bingung bacanya, siapa yang mati siapa yang disebut bapak. Terjawab sih ketika baca komentarnya 😀

  7. Ooh…baru mengerti setelah baca komen2nya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge