Home » Family and Parenting » 15 tahun…wedding anniversary
15thn

15 tahun…wedding anniversary

Tahun ini genap 15 tahun usia pernikahan kami dan 13 tahun saya menjalani kehidupan dengan menambah peran saya selain sebagai istri, ibu tapi juga sebagai perempuan bekerja. Bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, tahun ini sungguh terasa memberikan atmosfer yang berbeda. Entah kenapa saya merasa seperti menemukan jalan pulang di Ramadhan kali ini. Dan Allah pun seolah membuka pintu, karena kebetulan pula bertepatan dengan liburan semester sehingga saya punya banyak waktu yang biasanya saya habiskan ditempat bekerja untuk mengajar. Tahun ini saya punya banyak hari untuk berbuka puasa dengan keluarga dirumah, menyiapkan sahur dan melakukan ibadah malam. Semua itu seperti sebuah oasis mengingat beberapa bulan terakhir ini saya merasa lelah sekali bekerja, lelah dengan beberapa karakter sulit disekitar saya yang membuat saya dahaga dengan indahnya silahturahmi yang tulus tanpa kepentingan yang rasanya sulit sekali didapatkan didunia kerja.

Dunia berubah, begitu pun saya dan orang-orang disekitar saya namun beberapa perubahan disekitar saya melahirkan beberapa hal yang tidak membuat hati saya damai dengan pekerjaan saya, ada pula beberapa aktivitas yang membuat saya selalu berperang dengan hati saya saat melakukannya. Begitulah dunia dan manusianya…saya haya bisa menarik nafas panjang. Miris….
Awal nya saya berontak dengan kondisi ini, berpikir bahwa bukan seperti ini seharusnya dan sungguh saya tidak bisa menerima hal-hal yang saya anggap konyol wira-wiri lewat didepan hidung saya. Perang berkobar-kobar saat nilai-nilai yang kita pegang bertabrakan dengan kenyataan…menabrak batas-batas apa yang disebut dengan pantas dan patut., yang bila meminjam istilah para anggota dewan (yang entah masih bisa dikatakan “yang terhormat” atau tidak itu), berdampak sistemik..xixixixi.

Kemudian saya memilih untuk berdamai dengan keadaan dengan memutuskan untuk berada pada tempat yang tepat, dan melingkari diri saya dengan orang2 yg seirama. Alhamdulillah seorang teman (terimakasih Ai…) menulis dalam statusnya dan alhamdulillah pula saya sempat membacanya sebelum tertumpuk dengan postingan teman-teman lainnya, menulis bahwa “Tempat kembali hidup ini adalah Sang Pencipta dan tempat kembali keseharian kita adalah keluarga”, saya seakan diingatkan bahwa gundah saya tidak ada artinya bila saya mengembalikan semua kepada Sang Pencipta dan berada di tempat saya bisa menemukan nilai-nilai yang saya pegang….yaitu di rumah, diantara wajah bening dibarani dan wajah bijak yang dapat saya percaya..ayah mereka, Cinta kami….Tinto

Namun saya percaya bahwa setiap apa yang ada dipikiran kita akan membumbung ke angkasa mencapai peraduan Sang Maha Pemberi, dan terakumulasi energinya dan kemudian kembali kepada kita, maka saya hanya hanya bepikir Tuhan memang membentangkan situasi ini pasti bukan tanpa alasan. Dkhianati bukanlah sebuah keburukan buat kita, namun sebuah seleksi alam, memberikan tempat buat mereka yang memang yang seharusnya ada disekitar, orang-orang kita yang membawa kebajikan buat hidup kita. Lalu mengapa kita harus merasa resah? Siuasi sulit juga memberikan kebaikan buat kita, itu artinya agar saya belajar…..terutama tentang amanah, tanggungjawab dan integritas, etika moral yang tidak mungkin saya khianati bila saya masih ingin pantas disebut, istri..anak…ibu dan seorang guru.

Seorang anak muda yang saya sering membuat saya terkagum2 dengan cara berpikirnya mengingat usianya yang relatif muda seolah menyempurnakan jawaban gundah saya…**terimakasih Gita. Anak muda ini menulis, ” hanya ada tiga hal yang mampu membuat saya tunduk, yang pertama adalah Tuhan, yang kedua adalah keluarga, dan yang ketiga adalah orang-orang yang pantas disebut guru…
Dan saya mulai bisa berdamai…..

Kali ini saya tidak sedang ingin bicara tentang Tuhan, saya sedang ingin berbagi rasa tentang prioritas kedua kami setelah Tuhan yaitu keluarga, salah satu tempat saya kembali. Untuk mengingatkan kembali diri saya bahwa saya bukan siapa2 meski saya memperoleh pencapaian yang besar diluar, bila saya gagal membawa keluarga saya bersama saya dalam perjalanannya. Tepuk tangan dari orang lain tidak akan menggantikan penghargaan keluarga saya. respek dari yang lain tidak ada artinya jika saya tidak memiliki respek untuk orang-orang yang saya cintai.

Saya mempelajari hal ini dengan cara yang sulit dan membayar “mahal”. Bertahun saya menenggelamkan diri saya dalam pekerjaan dan memberikan “segala hal” yang saya miliki…benar-benar segalanya. Bekerja sepanjang hari termasuk hari sabtu dan minggu…mengerjakan beberapa kerjaan sekaligus, lalu perlahan berevolusi menjadi mesin “uang” yang alhamdulillah masih memiliki jiwa.
Saat itu saya hanya berpikir apa saja pekerjaan dirumah yang bisa saya delegasikan ke pihak ketiga sepeti urusan domestik dan logistik, maka akan saya delegasikan. dan menjadikan keluarga prioritas ketiga setelah pekerjaan (urutan yang salah sebenarnya), toh nanti saya akan kembali banyak memiliki waktu bersama-sama mereka.

Tentu saja bukan berarti hidup tanpa batasan, jauh2 hari dari “masa gedumbrangan” ini dimulai, saya telah menetapkan batas waktu atau time line untuk setiap pengharapan. Bersama ayahnya kami telah memutuskan itu dan menuliskannya di sebuah buku sebagai afirmasi kami. Meski dalam perjalanannya ternyata gak gampang…
beberapa perkiraan meleset, beberapa yang kami anggap akan mudah ternyata justru berhadapan dengan kendala. Bahkan ada masa-masa dimana kami seperti dua kereta yang berjalan ke tujuan yang sama namun di atas rel yang berbeda. Sejajar namun tak bersentuhan. Tentu saja tidak bersentuhan itu tiidak akan menghasilkan friksi namun sudah pasti hampa makna.
Keluarga tidak akan bertahan lama dengan kondisi ini, terus menerus ditinggalkan dan kelaparan.
Perlu menetapkan halte-halte, berhenti sejenak… evaluasi yang sudah dilakukan. Perbaikan proses di perjalanan selanjutnya.

tahun 2010 pernah saya tulis dalam buku saya adalah timetable saya untuk persiapan tinggal landas. Dimana insyaallah kami sudah lebih “nyaman” secara finansial dan sedikit kepemilikan, tanpa risau dengan tagihan2 dan segala macam angsuran. Tahun dimana saya bersiap meninggalkan tempat tertinggi yang pernah saya ingin capai dalam pekerjaan dan menyelesaikan step pertama studi lanjut saya….Alhamdulillah saat saya buat tulisan ini, kedua hal yang terakhir itu sudah selesai saya lalui.

Saat ini saya ingin menepati janji saya pada anak-anak, janji yang pernah saya tulis dengan airmata, saat tak berdaya didepan tumpukan kertas dimeja kerja, saat terjaga dengan thermometer di tangan ketika mereka demam, saat malu meminta izin tak bisa mendampingi mereka berprestasi dan saat apresiasi tak lagi menjadi penyeimbang kontribusi dan prestasi meski tanggungjawab pekerjaan betah menempel sampai dini hari tiba.

Saya berjanji akan tetap bertumbuh, mencapai potensi pribadi dan menolong anak-anak kami melakukan hal yang sama. Ini adalah filosofi atau nilai tertinggi dalam hidup berkeluarga kami. Kami ingin bila kami tiba pada saat akhir hidup kami, kami akan melihat ke belakang dan mengetahui bahwa kami telah menjalani hidup yang penuh makna.

Saat ini, saya memulai masa2 tinggal landas tersebut, dengan mengubah pendekatan atas karir saya. Rene Suhardono memberikan pencerahan besar buat saya, bahwa “your Job is not Your career”. Saya mulai menjajaki apa yang menjadi passion saya, dan menggali lebih jauh agar dapat menjadikan passion saya sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Saya mulai melindungi hari libur saya dan mendedikasikan hasil keringat kami untuk memfasilitasi waktu-waktu spesial dan berharga bersama keluarga. Menciptakan sebanyak mungkin pengalaman positf dan menyelesaikan pengalaman negatif bersama. Lalu bersama pula berbagi dan menambahkan nilai tidak hanya dalam keluarga namun juga pada setiap kehidupan orang lain yang kita sentuh.

Kembali ke pembuka tulisan ini, saya menyitir sebuah kalimat yang seorang teman sering mengatakan kepada saya (thanks yulian…)..bahwa….selalu ada “blessing in disguise

ada keengganan meninggalkan sesuatu, padahal itu memang sudah waktunya ditinggalkan.
ada hitung2an manusia yang sejatinya hanyalah kesombongan manusia terhadap sang maha pemberi,
bahwa kadang manusia harus “disentuh”, diingatkan dengan cara tertentu…agar mau melihat lebih dekat, membuka mata lebih lebar, dan mampu melihat yang disediakan Tuhan di balik itu.

Dan saya sudah memutuskan untuk menepati janji saya, tahun ini saya kembali…..
Kembali menjadi bagian sebuah tim, yang kami sebut sebagai The Winning Team…
Kami berharap kami mampu memenangkan setiap pertempuran..
bukan pertempuran melawan orang lain
tapi melawan diri kami sendiri…

untuk tumbuh kami harus melawan gaya gravitasi dan fokus pada sumber energi matahari
barulah kami dapat menjulang ketempat-tempat yang lebih tinggi

terimakasih tinto….selalu setia menunggu dan mendampingi di masa-masa sulit
terimakasih dibarani….atas kerjasama nya tetap jadi anak yang manis dan mudah….meski jarang ada bunda…he he he
luv u all

yup….because we are the winning team
pada pertempuran di setiap hari yang kita jelang

nirmala, 13 Agustus 2012

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

P8140535 - Copy

traveling asyik dimata anakku, lagu rindu sang bunda di bibir anaknya…

 Karena lagu yang tinggal diam di dalam hati seorang ibu, bernyanyi diatas bibir anaknya. Cuplikan ...

4 comments

  1. waaah sudah mencapai angka 15 berarti pahit manisnya hubungan rumah tangga uda berasa ya mbak 😀
    semoga langgeng 🙂

  2. wah iya mbak, beda anak beda karakter, jadi perlakuan ortu juga sesuai karakter anak, alde dan nai juga beda, nai lebih kalem dan alde aktif banget…
    Dewi Rieka recently posted…Bertemu Cewek Berbakat Chikita Fawzi di Ungaran 🙂My Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge