Home » Family and Parenting » 13rd Wedding anniversary
wedanniv

13rd Wedding anniversary

Hari ini istimewa….
Hujan sejak dini hari di cibubur-cimanggis dan sekitarnya tak membuat ku enggan beranjak dari tempat tidurku yang hangat. Kusingkirkan selimut hangat buatan tangan nyokap segera setelah alarm dari ponsel ku berbunyi. Kusempatkan membangunkan tinto dan kedua ratunya yang melingkar hangat disekitarnya untuk segera menunaikan ibadah sholat subuh.

Menyesuaikan dengan suasana hati dan rintik hujan seolah menyatu dengan suasana yang sudah dibangun sejak beberapa hari yang lalu tentang suatu hari pada 13 tahun yang lalu.
Di suatu momen yang konon kabarnya, saat itu para malaikat Allah turun memberi rahmat bagi dua anak manusia yang menyempurnakan ibadahnya, di hadapan Tuhan, kerabat dan sahabat.
Maka aku pagi ini mulai melo-melo gak jelas he he he, mencium kening 3 jiwa satu persatu, mengucapkan alhamdulillah hari ini kami masih bertahan dan berkumpul disini, ditahun ke-13 pernikahan kami. Thanks for marriage me, dear tinto…. being the one special person for the rest of my life.

Terlalu panjang rasanya untuk mengurai seluruh perjalanan 13 tahun ke belakang. Tak bisa ku memilih mana yang mendominasi pikirku. Bukan karena semua merupakan hal-hal yang luar biasa, justru semua biasa saja. Rangkaian perjalanan sebuah keluarga kecil yang rasa-rasanya dialami, dirasakan, dilakukan, oleh sebagian besar keluarga2 seumurku.

Ya…hanya hal-hal kecil. Namun bukan lah rangkaian hal-hal kecil itu yang ingin aku kenang hari ini, namun bagaimana hal-hal kecil itu mempengaruhi hidup kami sekeluarga.

Lihatlah keluarga kecil kami, ADOFANI world…..hanya terdiri dari sepasang suami istri yang dianugerahi titipan Allah dua malaikat kecil, gadis2 kecil yang manis, menghuni sebuah pondok mungil disudut kota jakarta yang kami sendiri acap bingung ini masuk wilayah cibubur atau cimanggis, ini Jakarta atau Depok he he he. Tergantung sudut pandang kali ya….dipandang dari jagorawi atau dari jalan raya bogor xixixixi.

Begitupun kami memandang hidup kami, bisa dari sudut yang mana saja.
Kami merangkai bersama cerita rumahtangga ini acap dari sudut pandang yang berbeda, dua manusia yang bertolak belakang personality dan melahirkan paradoks yang sama melalui diba rani yang juga berbeda personality, membuat suasana hari2 kami berwarna, dan itu sejatinya menyenangkan.

Meski perlu kurun waktu yang panjang sesungguhnya untuk mencapai fase ini, fase dimana kami “paham” bahwa inilah hidup kami, kami perlu sepuluh tahun pertama kehidupan pernikahan kami untuk berdiri tegak dan berpegangan tangan, setelah sebelumnya bagai dua rangkaian gerbong yang membawa impiannya masing-masing di rel yang berbeda,
maka tahun2 setelah itu kami belajar lalu menginvestasikan sebuah “ruang” dimana saat2 kami tidak bisa berdamai dengan perbedaan tersebut maka kami harus duduk disitu untuk melihat ke arah yang sama, dari sudut pandang yang sama, lalu melihat hal-hal kecil itu adalah suatu yang luar biasa. Luar biasa untuk dijadikan masalah atau diselesaikan, untuk diperhatikan atau diabaikan, untuk dijadikan batu sandungan atau batu loncatan ke depan, untuk menjadi mimpi buruk di masa-masa yang akan datang atau untuk menjadi hasrat akan mimpi indah yang menjadi nyata. Semua adalah pilihan….hanya sebuah pilihan, menggunakan ego atau akal sehat….memilih memaafkan atau menghakimi, memilih mengayomi atau menghukum…..

Tidak ada yang terlalu istimewa dalam hidup kami, kecuali sebuah perjalanan dimana kami harus tetap bergerak, ke arah yang sama, melalui proses yang ada senang dan sesekali menyakitkan, dan memilih untuk tidak hanya memiliki positive thinking namun harus diiringi positive feeling (dua hal yang harus selalu terintergrasi) lalu tumbuh di setiap hal-hal kecil setiap harinya.

Terinspirasi Andrea Hirata yang mengatakan bahwa “ayahku, ayah juara satu seluruh dunia, arsitek kasih sayang…yang selalu mampu menggubah hal-hal sederhana menjadi begitu mempesona”, menjadi legimitasi aku yang pada dasarnya sudah lebay ini menjadi lebih lebay, lalu menggubah (bukan mengubah) semua cerita manusia, semua hal, semua kejadian di lingkaran kami, yang mungkin biasa2 aja selalu menjadi tidak biasa bagi kami. Dimana setiap dari hal-hal kecil menjadi pembelajaran buat kami. Belajar bagaimana oranglain menjalani hidupnya dengan begitu indah, begitu bijaksana, begitu sederhana tanpa harus kehilangan makna.

Untuk semua itu, aku bersyukur bahwa Allah memberi seorang Agustinus dalam hidupku…lelaki yang lebih banyak dalam diamnya selalu bersedia melakukan hal-hal kecil yang sungguh berarti buat aku, dan selalu menjadi hal yang indah dan layak dituangkan dalam rangkaian kalimat2 untuk dibagi melalui tulisan-tulisanku.
Kesepakatan sering terjadi tanpa kata, dan itu sesungguhnya menyiksa bila tak dipahami. Namun sadar bahwa pernikahan bukanlah alat untuk menjadikan seseorang itu tepat buat kita namun justru tempat untuk menjadi orang yang tepat buat orang lain membuat kami dengan sengaja belajar. Belajar menjadi orang yang tepat bukan mencari orang yang tepat, belajar memberi untuk kemudian menerima, lalu kami belajar bicara tidak hanya melalui bahasa verbal namun melalui bahasa kasih.
Hal yang menyakitkan buat beliau bila aku bicara yang menyudutkan,kasar dan emosional…. itu lebih menyakitkan daripada gak dimasakin oleh istri nya seumur-umur ha ha ha….
maka bicaralah padanya melalui kata2 yang baik dan menyenangkan, beri ruang untuk waktu2 yang berkualitas meski di sela2 waktu ngajar dan penelitian, maka tangki emosiku akan penuh dengan pelayanan. Mobil pagi2 akan kinclong dan si bapak udah ganteng siap mengantar sang putri ke bogor xixixixi.

Jadi kalo ada pertanyaan (dan itu sering ditanyakan), kenapa perempuan yang bisa nyetir dan mandiri ini, yang jarak rumah dan kantor hanya 15 menit itu suka sekali merepotkan suaminya diantar2 kemana2, dijemput segala, dan ditungguin adalah bukan karena sok manja, tapi karena disela kegiatan tersebut lah kami mendapatkan waktu2 yang berkualitas.
Tidak sedikit impian2 yang lahir sepanjang jalan raya bogor, perselisihan yang selesai di rest area, kesedihan yang larut dalam damai menyusuri jagorawi, nilai-nilai kehidupan sepanjang Cifor menuju Darmaga, cekakakan sepanjang tol dalam kota atau tanjung priok dan maaf yang lahir melalui genggaman tangan menuruni jalan raya puncak menuju rumah dan tentu saja juga karena satu hal yang tidak bisa dipungkiri…..emang enak kok disetirin he he he.

Oh ya …sesungguhnya anugrah buat pernikahan kami adalah dibarani. Mereka lah Process Control hidup kami. Kami bukan malaikat yang tak pernah berbuat salah dalam rumahtangga kami. Banyak masalah, banyak khilaf, banyak salah langkah, banyak salah asa, banyak salah pikir, banyak salah prioritas. Tapi mereka dengan nilai-nilai yang tertanam dalam diri mereka sejak lahir, sering mengingatkan kami dengan cara mereka, dengan kepolosan mereka, agar kami kembali “on the right track”.
Sering kami mengafirmasi diri setiap kami “melenceng” apalagi sampai ke tingkat yang tidak pantas, bahwa “kami tidak mungkin mengajarkan pada mereka kebajikan bila kami tidak melakukan, kami tidak mungkin mengajarkan kepada mereka aturan main dalam hidup bila kami melanggarnya”.

Diwajah polos mereka, terutama saat mereka tertidur, dan refleks tanganku memainkan lembut helai demi helai rambut mereka, maka selaksa doa mengangkasa….semoga kami mampu menjaga titipan ini, dan memohon campur tangan Tuhan dalam pemeliharaannya…karena tanpa itu kami mungkin tak akan pernah mampu jadi orangtua yang baik buat mereka.
Tanpa campur tangan Tuhan, rasanya aku tak mampu menjaga pernikahan ini sendirian,
bersama Nya, bersama suami dan anak2, kerabat dan para sahabat yang selalu memberi spirit dan inspirasi dan kekuatan dimasa2 sulit, semoga keluarga kami menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah…..selamanya
sampai hanya maut yang memisahkan kami
amiiin

nirmala, 27 Juli 2010
di tahun ke-13 pernikahan kami

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

P8140535 - Copy

traveling asyik dimata anakku, lagu rindu sang bunda di bibir anaknya…

 Karena lagu yang tinggal diam di dalam hati seorang ibu, bernyanyi diatas bibir anaknya. Cuplikan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge