Home » Family and Parenting » 10 tahun Usia Rani….Anakku
happy birthday rani

10 tahun Usia Rani….Anakku

Aku menggumam dalam hati, senyum gadis kecil ini memang manis, ah pasti senyum itu diwarisinya dari ibunya xixixixi. Perasaan ini muncul saat aku menyusun satu persatu gambar kedalam satu bingkai, memandang empat photo yang berjajar mewakili beberapa fase pertumbuhan gadis kecil ini, terlihat bahwa ketrampilannya membentuk garis tipis yang sedap dipandang itu sudah terlihat sejak ia masih bayi. Gadis kecil yang memiliki senyum manis ini hari ini tepat berusia 10 tahun. Gadis kecil ini kupanggil Rani, anakku.

Hanifah Dianti Maharani, demikian nama yang kami sematkan padanya sepuluh tahun lalu untuk seorang bayi yang terlahir dengan berat 4,00 kg dan panjang 52 cm. Bila meminjam isitilah biologi, anak ini seolah sebuah hasil perkawinan silang, karena ia mewarisi tubuh ayahnya dengan karakter ibunya, termasuk karakter aneh yang aku sebut paradoks karena ia seorang melankoli yang sanguin, sungguh sebuah kombinasi personality yang gak umum xixixixi.

Rani ekstrovert, dimana saja berada mudah menyesuaikan diri, tak repot membawa ia pergi kemana pun sejak kecil. Ia mudah nyaman dengan orang yang dia kenal dan hobinya ngobrol, banyak sekali hal yang seolah tak habis ia ceritakan. Obrolan bisa berlama-lama dan tak jarang obrolan kami terhenti karena tiba-tiba ia jatuh tertidur. Kecapean ngomong kali ya hehehehe.

Rani feminin, tak seperti kakaknya yang hanya berjarak 15 bulan yang cenderung maskulin. Suka berdandan dan mematut diri berjam-jam di depan cermin. Lebih suka menggunakan rok atau gaun dibanding celana panjang. Rani suka bernyanyi, menari dan pengen jadi artis selain cita-cita lainnya sebagai presiden.

Sebagai seorang melankoli, rani handal dengan urusan beres-beres, menata, meracik bahkan ada satu yang aku acungkan jempol adalah dia suka dan sangat handal dalam urusan setrika baju, bahkan untuk rok sekolah nya yang lipit-lipit panjang itu lho. Setrika baju kok jadi hobi tho, nak?.

Bahasa kasih gadis kecil satu ini adalah sentuhan fisik, Entah ada hubungannya atau tidak, hal ini sudah terbangun sejak ia dalam kandungan. Maklum lah saat ia dalam kandungan saya masih harus berjuang untuk membawa-bawa ia dalam perut naik turun angkutan umum beberapa kali dari rumah ke kantor yang jaraknya bisa 1,5-2 jam perjalanan. Bila aku rasakan ia resah, biasanya saya mengelus2 bagian tubuhnya yang menonjol di perut saya. Terlebih tri semester terakhir, tak jarang ia ikut saya begadang membuat materi ngajar, dan seringkali disaat-saat seperti itu saya dapatkan moment ia bergerak-gerak aktif dan akan tenang bila saya mengelusnya. Sampai besar pun ia seperti itu, seringkali ia bilang, “bunda, aku kangeeeeen deh, peluk doong” kalo sudah ditinggal seharian kerja sambil memeluk saya. Ia juga sering bilang, “elus2 kepala ku dong bun” menjelang tidur. Dan kalau ia menangis karena suatu hal dia akan cepat sekali tenang bila aku bilang, “sini nak, bunda peluk”.

Alhamdulillah, anak itu tumbuh menjadi pribadi yang mudah, mandiri dan menyenangkan. Sesekali nakal, sesekali melanggar peraturan, namun ia tahu “rule” apa yang berlaku dirumah, dan dalam nilai2 seperti apa ia harus bersikap. Ia tau bahwa ada atau tidak ada kami, peraturannya tetap sama karena ada Allah yang melihat, dan gak perlu juga takut berlebihan bila kami tidak ada di rumah karena ada Allah yang menjaga. Yang penting tetap mawas diri dan saling mengingatkan, tentu saja kami tetap kontrol dari luar rumah. Mengakui kesalahan, meminta maaf dan memperbaikinya dimasa yang akan datang, jadi pegangan bila ia alpa.

Kami menikmati sekali tumbuh kembang anak ini, alhamdulillah ia tumbuh sehat dan cerdas, jadi kebanggaan ayah ibu dan gurunya. Tahun demi tahun berlalu, dan bila hari ini saya merasa tua adalah karena bukan hanya usia nya yang sudah satu dekade tapi juga dia sudah mulai merasa besar. Dia sudah meminta, “bunda, sesekali gak apa-apa kok aku dengan kakak gak harus ditemani didalam bioskop”. Meskipun sebenarnya saya menemani bukan bukan karena khawatir namun karena ingin menikmati dan mendampingi momen2 saat ia menemukan dan belajar banyak hal dari sebuah film. Bila kami sedang nge-mall, dia juga sudah sering bilang, “bunda tunggu sini aja, aku mau beli sesuatu disitu, aku bisa kok gak usah ditemani”.

Dan yang luar biasa itu yang ia katakan hari ini, ketika ia bilang, “aku gak usah dirayain diluar deh, nda ulang tahunnya. Aku mau buka puasa bareng teman-teman dirumah. Bunda gak usah repot, biar aku yang beli semua makanannya di minimarket, juga isian goody bag buat teman-teman biar aku yang pilih karena aku yang tau kesukaan teman-teman”.

Oalah….baiklah nak. Selamat menyiapkan perayaanmu sendiri.

Selamat ulang tahun, anakku….doa ayah bunda selalu bersamamu

Nirmala, 14 Agustus 2012

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

P8140535 - Copy

traveling asyik dimata anakku, lagu rindu sang bunda di bibir anaknya…

 Karena lagu yang tinggal diam di dalam hati seorang ibu, bernyanyi diatas bibir anaknya. Cuplikan ...

2 comments

  1. Aduuuh mbaak, so sweet putrinya. Yang bikin hepi namanya persis nama putri imut n cantikku "RANICIELO K" btw slam kenal dari Kudus. Nice banget blognya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge